16 Mei 2019 | Penulis : Sahabat Lokal

16 Mei 2019 |
Penulis : Sahabat Lokal

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

Sahabat, mengucapkan “terima kasih” adalah kewajiban kita setelah diberi sesuatu oleh orang lain. Banyak orang memiliki cara tersendiri untuk mengucapkan rasa terima kasih mereka. Salah satunya datang dari masyarakat nelayan Madura, Muncar dan berbagai daerah lain di Jawa dengan Petik Laut sebagai ucapan terima kasih mereka. Seperti apa acara tersebut? Yuk, simak informasinya di bawah ini!

Terciptanya Festival Petik Laut

Nggak ada yang tahu sejak kapan festival Petik Laut ini muncul. Masyarakat melakukan Festival Petik Laut karena ini adalah warisan turun temurun yang diajarkan oleh leluhur. Petik Laut adalah cara masyarakat Jawa, terutama para nelayan untuk berterima kasih kepada Tuhan karena telah diberi kemudahan dalam melakukan pekerjaannya.

Selain itu, kita juga nggak bisa membantah bahwa masyarakat Indonesia juga masih kuat dan percaya dengan mitos atau legenda, sehingga ada juga yang melakukan Festival Petik Laut ini sebagai bentuk terima kasih kepada Penguasa Laut Selatan.

Prosesi dalam Festival Petik Laut

Dalam menjalankan sebuah acara besar, pasti Sahabat sudah tahu dong kalau ada tata cara yang harus ditaati agar acara tersebut dapat berjalan lancar. Nah, dalam Festival Petik Laut ini, masyarakat nggak asal merayakan kapanpun mereka mau, melainkan ada waktu-waktu tertentu untuk merayakannya. Waktu yang kita bicarakan di sini adalah pada bulan Suro saat bulan purnama dalam keadaan penuh.

Nggak lengkap rasanya ucapan terima kasih kita kalau nggak memberikan sesuatu, betul kan? Maka dari itu, dalam Festival Petik Laut ini, para nelayan beserta warga mengumpulkan beberapa sesaji untuk nanti digunakan dalam acara. Ada yang unik nih dari sesaji yang dikumpulkan, yaitu kepala kambing.

Mungkin Sahabat bertanya-tanya, “Kepala kambing? Di mana uniknya?”, nah kepala kambing di sini nggak berasal dari sembarang kambing. Kepala kambing yang boleh dijadikan sesaji harus berasal dari kambing yang memiliki warna kepala hitam dengan badan putih. Kepala kambing ini melambangkan ucapan terima kasih para warga kepada Tuhan.

Karena kini kita sudah berada di era yang serba modern, maka acara ini pun sudah mendapat sentuhan modern, salah satunya bisa dilihat dari diadakannya acara pendukung, seperti orkestra, orkes dangdut, dan lainnya sesuai dengan kesepakatan para warga.

Kapal Unik Pendukung Tradisi Petik Laut

A group of people on a boat in the water
Description automatically generated

sumber : flickr

Selain tradisi Petik Laut sendiri, terdapat hal lain yang menjadi daya tarik tradisi ini, salah satunya adalah dengan hadirnya kapal nelayan dengan desain yang unik. Perahu hias ini dikhususkan untuk melarung sesaji ketika berada di lautan dan bentuk kapal ini pun persis sama dengan kapal nelayan pada umumnya.

Di bagian dalam kapal ini nantinya, akan dimasukkan bahan sesaji yang sudah dikumpulkan sebagai ucapan syukur sekaligus sebagai bentuk permohonan agar para nelayan diberikan kemudahan dalam mencari nafkah di laut.

Itulah salah satu bentuk ucapan terima kasih kita sebagai manusia kepada Tuhan dan alam versi nelayan Pulau Jawa. Semoga tradisi Petik Laut yang awalnya hanya sebatas syukuran, kini dapat berubah menjadi sebuah keharusan ini bisa dikenal dunia dan menjadi daya tarik pariwisata untuk Indonesia. Selain menjadi daya tarik wisatawan, festival ini diharapkan mampu menjaga kearifan lokal warga sekitar.