05 Februari 2021 | Penulis : Raka Raynata

05 Februari 2021 |
Penulis : Raka Raynata

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

Dalam masyarakat multikultural Indonesia, keberagaman (ras, suku, agama/keyakinan, golongan) acap dijadikan alasan untuk bertikai. Pada tatanan sarat kemajemukan seperti Indonesia, konflik berkali-kali mencuat akibat terpantik provokasi, sehingga kerukunan dan persahabatan yang sempat terjalin sebagai derap menuju kebangkitan serta kemajuan bersama sering tersendat, bahkan terhenti. Pasar rakyat pun tak ayal telah menjadi saksi bisu dari ancaman disintegrasi yang menyergap di tengah pertikaian.

Mengutip Margawati (2000: 513), sekitar Januari-Maret 1999, pasar rakyat di Ambon, Maluku, terimbas segregasi akibat konflik antaragama ataupun politisasi agama. Ketika itu, dikenal adanya Pasar Merah (khusus umat Kristen) dan Pasar Putih (bagi umat Islam). Sungguh disayangkan tentunya, sebab pasar rakyat sejatinya memiliki potensi untuk menguatkan kohesi antarwarga serta mewujudkan persatuan, sehingga energi bangsa dapat diarahkan sepenuhnya pada upaya membangkitkan Indonesia pasca pandemi serta mengejar kemunduran 5 tahun terkait pengentasan kemiskinan karena deraan pandemi yang baru berlangsung dalam hitungan bulan.

Di pasar rakyat, para pedagang dipastikan disibukkan dengan kegiatan ekonomi demi mewujudkan kemakmuran bagi keluarganya, sehingga kerap harus mengasuh anak sembari beraktivitas. Dalam kegiatan tersebut, para pedagang mesti berinteraksi intensif dengan pembeli dari beragam latar belakang. Negosiasi harga takkan berakhir dengan kesepakatan bila kedua belah pihak bersikeras serta tak bersedia menerima pendapat pihak lain. Tawar-menawar suatu barang tidak akan berlanjut pada transaksi jika dilandasi prasangka dan bukannya keinginan mencapai titik temu yang memuaskan semua. Hal ini sejatinya akan menunjukkan kepada anak-anak mereka betapa pentingnya bersikap positif serta berupaya menerima keberadaan orang lain secara tulus.

Selanjutnya, diharapkan anak-anak tersebut berangsur menyadari bahwa prasangka tak ayal menimbulkan ketidaknyamanan, bukan saja bagi sasaran prasangka, tetapi juga untuk pemilik prasangka. Maka, yang terbaik adalah belajar tidak membenci dan tak berprasangka agar mampu bekerja bersama siapa pun guna mendatangkan kebaikan bagi sesama anak bangsa, terutama semasa pandemi dan adaptasi kebiasaan baru kelak.  

Sesuai Teori Contact Hypothesis, meningkatnya kontak memungkinkan timbulnya pemahaman yang lebih mendalam mengenai kesamaan-kesamaan yang dimiliki. Pemahaman tentang kesamaan dimaksud selanjutnya akan memunculkan daya tarik dari kedua belah pihak, sehingga mampu mengikis prasangka (Damanik, 2017: 143). Secara konkret, pedagang dari suku atau agama tertentu awalnya mungkin memiliki prasangka terhadap pedagang bersuku dan beragama berbeda. Demi mengatasinya, melalui berbagai kegiatan paguyuban pedagang pasar rakyat, seluruh pedagang dapat kian sering saling berhubungan guna melakukan kegiatan bersama (rekreasi atau bertanding olahraga dengan tetap menerapkan perilaku 3M, yaitu menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak) maupun berdialog (berdiskusi tentang masalah yang dihadapi sebagai pedagang selama pandemi, pentingnya digitalisasi juga kemitraan dengan marketplace, hingga bertukar pengalaman agar dapat meraih kemajuan dalam kehidupan). Perlahan, diyakini akan tumbuh sikap-sikap bersahabat dan meningkatkan saling pemahaman sehingga secepatnya mampu bangkit bersama sahabat.  

Rekategorisasi pun penting dilakukan. Rekategorisasi adalah melakukan perubahan batas antara in-group (kelompok dalam) dan out group (kelompok luar). Dengan melakukan rekategorisasi, seseorang memperluas area kelompok dalamnya, sehingga orang lain yang semula dianggap anggota kelompok luar bisa diterima sebagai anggota kelompok dalam (Damanik, 2017: 143). Pada akhirnya, rekategorisasi berpotensi mengurangi potensi konflik yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, pada awalnya, pedagang pasar rakyat ataupun pembeli dari suatu agama atau etnis mempunyai prasangka terhadap pedagang maupun pembeli berbeda agama dan etnis sebagai kelompok luar. Namun, apabila lantas bersedia melakukan rekategorisasi dan memperluas area kelompok dalamnya, maka akan timbul kesadaran bahwa mereka semua merupakan bagian dari entitas tunggal yang disebut pasar rakyat serta bangsa Indonesia. Dengan demikian, kebencian pun perlahan lenyap sebab kini ‘kami’ (us) dan ‘mereka’ (them) telah berubah menjadi ‘kita’ (we) yang memiliki kesamaan nasib serta asa menggapai kebangkitan dan kemajuan seutuhnya. Dimulai dari pasar rakyat, kemudian ditularkan ke lingkup masyarakat yang lebih luas agar kebersamaan serta kepedulian mewabah menggantikan pandemi.

Kala persatuan telah berhasil diwujudkan dari pasar rakyat, sejatinya kegemilangan pun tak berjarak terlalu jauh lagi dari genggaman. Ketika itu, pengembangan ekonomi kerakyatan kreatif, edukatif, dan berbudaya sebagai etalase kekayaan sebuah daerah takkan dirintangi oleh bara prasangka ataupun kebencian. Saat itu, tonggak perekonomian bagi UMKM yang mampu menyerap tenaga kerja akan mampu menghadirkan kemajuan bagi semua, tanpa diskriminasi dan ancaman disintegrasi. Ketika itu, bahkan Covid-19 pun mustahil tak takluk di hadapan gelora semangat bersatu. Mari dukung Festival Pasar Rakyat dari Adira Finance! Mari bersatu dari pasar rakyat! Mari bangkit bersama sahabat demi mewujudkan kegemilangan membanggakan pasca pandemi!