05 Februari 2021 | Penulis : Julita Hasanah

05 Februari 2021 |
Penulis : Julita Hasanah

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

“17 November 2018, hari terburuk sepanjang usia. Ibu meninggalkan Kami sekeluarga dalam tangis tanpa jeda. Hari itu segala hal tentang hidup berubah seketika.”

Ibu adalah nyawa keluarga, sehingga semenjak kepergian beliau hidup Kami jadi berbeda. Sebagai anak sulung, tugas domestik menjadi tanggung jawabku. Memasak dan membersihkan rumah tak memberatkan, kecuali berbelanja ke pasar. Pengalaman buruk masa kecil “tak sengaja” kencing di celana saat menemani Ibu belanja meninggalkan trauma. Selain itu, pasar tradisional yang kini lebih dikenal pasar rakyat juga lekat dengan karakter kumuh dan bau. Itu menjadi alasan tambahan mengapa Aku enggan berbelanja ke pasar. 

Wajah Baru Pasar Rakyat, Tak Lagi Kumuh dan Bau...

Mau tak mau Aku harus tetap ke pasar. Kali pertama ke Pasar Tanjung yang merupakan ikon kota Jember, Aku terkejut karena potret lama pasar yang bau dan kumuh tak lagi kutemui. Pasar kini megah dengan infrastruktur memadai, pedagang berjejer rapi menyesuaikan jenis dagangan. 

Merespon pandemi, pasar kini dilengkapi fasilitas mencuci tangan yang tersedia di beberapa titik strategis. Hal ini tentunya menambah kenyamanan berbelanja di tengah virus yang kian masif.  

Dari masa ke masa, pasar rakyat selalu memenangkan hati para ibu. Alasannya yaitu tawar-menawar, hanya di pasar rakyat Kita bisa leluasa melakukan negosiasi harga. Sayangnya tak semua orang berhasil mendapatkan harga miring. Menurut beberapa sumber, jika ingin memenangkan hati pedagang gunakan bahasa yang sama. Jika penjual berbahasa Jawa, maka gunakanlah bahasa yang jawa, begitu pula jika Bahasa Madura dan lainnya. Dengan jurus itu pedagang akan menganggap Kita saudara sehingga menyetujui harga yang ditawarkan.  

Sebagai catatan, tawarlah dengan harga yang wajar ya sahabat !

Adanya standarisasi membuat suasana berbelanja di swalayan tampak seragam. Berbeda sekali dengan pasar rakyat yang kaya keberagaman. Dari aspek bahasa, Kita akan menemukan beragam bahasa daerah yang menjadi simfoni tersendiri. Selain itu, penjual satu dengan penjual lainnya yang berasal dari berbagai suku merepresentasi keberagaman Ibu Pertiwi. Kita tak hanya menjumpai suku lokal, namun juga beberapa perantau dari luar pulau.  

Kebanyakan dari Kita mungkin pernah meragukan kelengkapan pasar rakyat. Padahal pengalaman membuktikan pasar mampu mengakomodir kebutuhan pangan dan sandang konsumen. Berbagai jenis sayuran modern seperti paprika, selada, dan bawang bombay tersedia lengkap dengan harga bersaing. Pasar rakyat juga satu-satunya yang masih menyediakan sayuran yang mulai langka, seperti Kenikir, Kecombrang, Jantung Pisang, Selada Air, sampai Pakis Sayur. 

Bagiku, pasar rakyat tempat terbaik bernostalgia kenangan masa kecil. Di sana Kita dapat menemukan aneka jajanan tempo dulu. Misalnya Klepon, Putu Ayu, Kue Cucur, dan masih banyak lagi. Alasan lain yang bikin betah berlama-lama belanja di pasar rakyat adalah suasana akrab yang dibangun. Hubungan pembeli dan penjual di pasar rakyat bisa sedemikian dekat. Bahkan bagi sebagian orang, pasar rakyat adalah ruang untuk bercerita dan berkeluh kesah.  

Pasar Rakyat di Tengah Pusaran Perubahan  

Arundhati Roy menulis, pandemi yang saat ini Kita hadapi adalah sebuah portal, pintu gerbang antara dunia lama dan dunia baru. Dunia baru yang sedang dan akan Kita hadapi jelas berbeda. Kini digitalisasi menjadi kunci untuk tetap bertahan di tengah pusaran perubahan.  

Pertanyaannya, siapkah pasar rakyat Kita ? 

Fakta di lapangan menunjukkan masih sedikit pedagang pasar yang benar-benar menguasai teknologi. Meskipun sudah banyak yang mengantongi ponsel pintar,tapi hanya sebatas penggunaan dasar untuk berkomunikasi. Padahal kemampuan berdagang online kini menjadi kebutuhan. Hal ini disayangkan karena Pasar Rakyat sangat potensial dengan keberagaman dan keunikannya. 

Masalah ini bukan hanya tugas pemerintah, ini tanggung jawab bersama... 

Harapan selalu ada, bersama Festival Pasar Rakyat sudah saatnya pasar rakyat Bangkit Bersama Sahabat. FPR merupakan sebuah gerakan sosial Adira Finance yang bertujuan mendukung pasar rakyat sebagai ruang publik kreatif melalui pemberdayaan, sosialisasi, kesenian dan budaya.   

“Pasar rakyat tak hanya menjalankan peran ekonomi seperti menyerap tenaga kerja, tonggak perekonomian UMKM, namun lebih jauh sebagai etalase kekayaan daerah, karakter kota, destinasi wisata unik dan kamus hidup kuliner Indonesia.”  

Pertama, kontribusi yang dapat Kita lakukan sederhana yaitu dengan dengan berbelanja ke pasar rakyat terdekat. Kedua, mari secara serentak menggunakan platform yang Kita miliki untuk mempromosikan pasar rakyat. Ketiga, sebagai Milenial Kita banyak terlibat dalam berbagai organisasi. Jika selama ini pedagang pasar jarang tersentuh anak muda, sudah saatnya social project yang dijalankan menyasar pasar rakyat dengan kegiatan yang berfokus pada pendampingan berdagang online. Ketiga kontribusi tersebut sangat berarti bagi keberlanjutan pasar rakyat yang memegang segudang peran bagi negeri.  

Aku sudah mendukung pasar rakyat, Bagaimana dengan Sahabat Milenial ?