06 Februari 2021 | Penulis : Yohansen Wyckliffe G

06 Februari 2021 |
Penulis : Yohansen Wyckliffe G

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

Pasar rakyat boleh dikatakan sebagai ruang keberagaman. Pasalnya, banyak aktor yang terlibat di dalamnya. Ramai. Ada penjual dan ada pembeli. Barang yang dijajakan pun beragam. Aneka jenis sayur-mayur, ikan, daging, buah, gorengan dan segala jenis produk rumah tangga tersedia. Lengkap! Tak jarang antar penjual, pun dengan pembeli saling bertransaksi. Kemudian berinteraksi. Ngobrol ngalor-ngidul.

Adapun sebab, yang membuat orang-orang senang, menapakkan kaki di pasar rakyat. Lantaran; harga bisa ditawar, barang lengkap, cepat diperoleh dan adanya kedekatan emosional antar penjual dan pembeli (Arif Kisbiyanto, 2013). Sehingga, tidak heran jika keberadaan pasar rakyat di bumi Indonesia masih mendominasi. Dengan jumlah: 15.657 pasar banyaknya (Kementrian Perdagangan, 2020).

Bagai di negeri antah-berantah. Varian keberagaman yang mekar di tengah pasar rakyat, seakan layu dan kering belakangan ini. Pandemi Covid-19 biang keladinya. Pasar rakyat menjadi klaster baru penyebaran. Akibatnya, operasional pasar dihentikan sementara waktu. UMKM ikut terkena imbas. Hingga Juli 2020, menurut data Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; 56% UMKM dalam kondisi buruk, 14% mengaku baik dan sisanya berstatus was-was.

Selain itu, dampak dalam skala besar, pertumbuhan ekonomi nasional mengalami perlambatan. Menurut data BPS, triwulan II 2020 perekonomian minus 5,32%, triwulan III 2020 kembali minus 3,49 persen. Dan triwulan IV, diperkirakan kembali menggoreskan problematika yang tak jauh berbeda.

Sinar Harapan

Untungnya, secerca sinar harapan, tampak jelas menembus awan mendung Nusantara. Pandemi Covid-19 memunculkan ruang baru, untuk menghimpun keberagaman produk- produk pasar rakyat. Transaksi e-commerce menurut Bank Indonesia, di kuartal I 2020 mempunyai 275 juta transaksi. Di kuartal II, meningkat 40% menjadi 383 juta transaksi. Fenomena digital ini, tentu dapat dimanfaatkan sedemikian rupa bagi penguatan pasar rakyat.

Upaya digitalisasi, akan menambah keberagaman aktor-aktor yang terlibat dalam modernisasi pasar rakyat. Perekonomian di sektor rill tertolong. Persebaran Pandemi Covid- 19 ikut menurun.

Langkah Konkret

Sebagai langkah konkret, dari upaya digitalisasi pasar rakyat, telah dimanifestasikan dengan baik melalui, “Festival Pasar Rakyat” Adira. UMKM yang kerap beroperasi di dalam pasar tradisional, dibantu melakukan; digitalisasi transformasi, peningkatan jumlah dan kapasitas produksi, pengembangan usaha, permodalan, izin dan packaging/desain.

UMKM sebagai aktor penggerak roda perekonomian, mulai digagas untuk go digital. Mekanismenya sederhana. UMKM diintegrasikan, untuk membentuk agregasi atau kumpulan pedagang skala kecil. Kemudian, seluruhnya disatukan di “toko bersama” dalam suatu marketplace online (e-commerce). Seperti; Tokopedia, Bukalapak, Shopee dan JD.ID.

Pembeli tinggal membuat pesanan (order), kemudian melakukan pembayaran melalui; credit card, fintech (OVO, Link Aja, Gopay) atau COD (cash on delivery). Setelah barang dikirim menggunakan jasa kurir online, notifikasi akan muncul kemudian melalui Apps e- commerce yang digunakan. Sehingga, barang tetap dalam pantauan.

Mekanisme digitalisasi pasar rakyat melalui kolaborasi dengan e-commerce, tentu akan melindungi penjual dari order-an bodong. Pun demikian dengan pembeli. Mereka akan dilindugi dari rendahnya kualitas produk yang dijual. Sehingga, e-commerce berperan

layaknya Themis Goddess. Dewi keadilan, dalam mitologi Yunani, yang menjamin kepentingan kedua pihak. “Indonesia Mall” salah satu contoh toko online, yang berhasil menjalankan strategi ini.

Menurut data BPS, dari 270 juta orang Indonesia, 225 juta penduduk diataranya beragama Muslim. Pelaksanaan Ekonomi Syariah, dijalankan optimal dengan “Halal Plaza”. Keberagaman varian dagangan di pasar rakyat akan semakin bertambah. Seperti “Indonesia Mall”, “Halal Plaza” juga menerapkan prinsip yang sama. Dengan berkolaborasi di dalam Festival Pasar Rakyat dan Adira Finance Syariah, jumlah UKM yang terdaftar di “Halal Plaza” sudah lebih 15.000 merchat.

Malahan, bank sentral telah mengeluarkan standarisasi pembayaran digital. Menggunakan QR Code bernama QRIS. PerAgustus lalu, BI menyatakan bahwa, telah ada sebanyak 4,5 juta penjual di Indonesia menggunakan QRIS. Artinya, digitalisasi pasar rakyat, takkan menjadi pengakuan semu pinokio. Melainkan, sungguh akan tergenapi.***

Dengan bergabungnya pasar rakyat ke ranah digital, kompleksitas keberagaman di dalamnya akan terus mekar. Aktor-aktor seperti e-commerce, fintech dan jasa kurir online akan ikut meramaikan semarak perekonomian pasar rakyat. Ekosistem ini, akan membuat perekonomian UMKM berdiri kokoh pasca Pandemi Covid-19.

Apalagi jika melihat laporan Google Temasek. Setelah diratifikasinya ASEAN Agreement on E-commerce. Indonesia memimpin transaksi e-commerce Asia Tenggara di tahun 2018. Dari US$ 23,2 miliar transaksi, Indonesia berhasil menguasai US$ 12,2 miliar diantaranya. Lebih 50%. Angka ini akan terus meningkat, jika keberagaman produk pasar rakyat dialokasikan sampai ke ranah internasional kelak.

Momentum ini tidak boleh kita sia-siakan. Festival Pasar Rakyat, sebagai upaya digitalisasi pasar tradisional harus terus didukung. Mari! Bangkit bersama sahabat, menghimpun setiap keberagama, untuk bersama keluar dari lumpur keterpurukan.

#AdiraFinanceID #BangkitBersamaSahabat #FestivalPasarRakyat