06 Februari 2021 | Penulis : Siti Hajar

06 Februari 2021 |
Penulis : Siti Hajar

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

“Kapan terakhir kamu ke pasar?”

Jawabannya bisa beragam bukan? Kemarin. Seminggu yang lalu. Sebulan yang lalu. Setahun yang lalu. Atau bahkan kita lupa kapan terakhir kali ke pasar rakyat karena sudah terbiasa ke swalayan. Tak mengapa kan? Katanya hidup itu pilihan. Asalkan kita berani memulainya. Nah, kalau saya, termasuk yang doyan ke pasar sesekali ke swalayan. Pasar adalah tempat bertukar semua kemungkinan kehidupan manusia. Seperti sebuah rumah yang gaduh tapi akrab. Pasar rakyat adalah tempat hiburan paling murah di dunia.

Siapa yang peduli pada becek amis pasar rakyat yang khas itu. Celoteh tentang bawang merah yang naik harga, kentang anjlok, buncis rusak, kol kecil, juga ikan-ikan bermata merah yang katanya tak segar lagi. Siapa yang keberatan pada keriuhan itu? Saya rasa tak ada—dan tak perlu ada. Bukankah memang demikian sebuah pasar rakyat berjalan. Semua orang berkumpul di sana menyepakati satu dan dua hal untuk dimasukkan ke dalam keranjang belanja. Semua orang rela berdesakkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Para pedagang menggelar jualan, para tengkulak hilir mudik mengantar pasokan, para pembeli kesana-kemari berbelaja. Pasar menjadi sebuah ruang alternatif bertemunya berbagai kelas sosial. Tak peduli keluarga konglomerat atau keluarga melarat, kaya atau miskin, kelas pemodal atau kelas buruh, tak ada bedanya. Ketika ada di pasar, semua tetap berdesakan di tengah bau amis dan bau keringat. Setiap orang yang mengendaki datang ke pasar tentu tahu bahwa tak ada perlakuan khusus di pasar rakyat.

Pademi Menjadi Jalan Digitalisasi Pasar Rakyat

Pasar rakyat sebagai wujud aktivitas ekonomi rakyat dari waktu ke waktu terus direvitalisasi sehingga nyaman bagi masyarakat. Kesan pasar rakyat yang kumuh, bau dan tidak terawat belakangan sudah mulai diperhatikan. Pemerintah mendorong ketersediaan fasilitas yang bersih, sehat, aman, tertib, dan menjadi ruang publik yang nyaman bagi masyarakat.

Seiring dengan adanya serangan mendadak Covid-19 di seluruh dunia membuat semua orang belajar. Bahwa lingkungan kerja yang sehat menjadi hal dasar yang perlu diperhatikan setiap pribadi yang datang ke pasar rakyat. Meski kaget, ada juga pedangang yang mulai merambah dunia digital untuk memasarkan dagangan mereka. Digitalisasi di pasar rakyat mulai dibangun. Tiba-tiba di Kota Kupang—tempat penulis, ramai dengan pesan antar sayur mayur dan lauk pauk. Banyak jajanan-jajanan pasar yang bisa hadir ke rumah tanpa harus ke pasar. Satu demi satu kawan mulai mempromosikan barang dagangannya. Ajaibnya, semua orang menyambut baik perubahan ini karena merasa perlu saling dukung menghadapi segala kemungkinan akibat pandemi Covid-19. Setiap pembeli menjadi sahabat penjual dengan membantu promosi. Yah, dapat dikatakan ini iklim maju bersama sahabat. Pandemi membuka jalan digitalisasi pasar rakyat diterima lebih cepat di kota-kota kecil.

Pasar Rakyat, Etalase Keragaman Masyarakat

Pasar rakyat ibarat sebuah etalase warna-warni—tempat bertemunya keragaman masyarakat di suatu kota. Ketika saya ke pasar Oeba di Kota Kupang misalnya, saya bisa mendengar para pedagang berbincang dengan bahasa Dawan, Sabu, Rote, Jawa, Bugis, dan bahasa-bahasa daerah lainnya. Candaan-candaan khas pasar, kuliner khas masyarakat, dan tentunya harga yang relatif murah dengan kuliatas bagus menjadi alasan saya selalu kembali ke sana.

Interaksi di pasar rakyat bukan interaksi biasa melainkan interkasi budaya. Setidaknya ucapan ‘makasih sayang’ masih bisa didengar dari mulut para penjual ibu-ibu ketika saya selesai berbelanja. Atau terdengar para pedangang laki-laki menawar dagangan dengan kalimat, “Bibi, cari apa? Ikan ko? Sayur ko? Ini segar-segar.” Yah, bagi kami muslimah yang menggunakan jilbab sudah menjadi budaya disapa ‘bibi’ oleh saudara-saudara kami yang beragama lain, terutama yang tidak saling kenal mengenal. Keakraban ini mejadi hiburan. Tidak aneh bila Adira Finance melakukan kegiatan pemberdayaan, sosialisasi, kesenian dan budaya dengan tema Festival Pasar Rakyat untuk mendorong pasar rakyat di Indonesia menjadi ruang publik yang kreatif. Setiap pasar rakyat telah memiliki modal keragaman budaya yang kaya. Tentu untuk menjadi ruang kreatif akan sangat menarik. Kita bisa berbelanja sambil menikmati keragaman budaya dalam ruang-ruang kreatif di pasar rakyat. Rasanya akan sangat menyenangkan.

#AdiraFinanceID #BangkitBersamaSahabat #FestivalPasarRakyat #LombaBlog #BloggerKupang