05 Februari 2021 | Penulis : Gian Agistian Algfar

05 Februari 2021 |
Penulis : Gian Agistian Algfar

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

Hari ini, minggu ini, persediaan makanan dan uang mungkin masih cukup, tapi bagiamana dengan minggu depan? Pada kondisi yang tidak diinginkan, bagaimana cara kita bertahan? Pertanyaan selanjutnya, pada tahun 2021 nanti, apakah keresahan yang sama masih dirasakan dan pertanyaan yang sama masih diutarakan? Mungkin iya, namun semoga kondisi tersebut segera membaik. Semoga.

Pandemi yang terjadi saat ini, berdampak besar dan dirasakan oleh semua kalangan, tanpa pengecualian. Ragam kekhawatiran muncul, tentang apa yang akan terjadi esok hari, bisa kah kita dengan bebas pergi ke sana-sini, sampai memikirkan sanak saudara yang berada di zona-zona rawan. Awal pandemi di Indonesia terjadi di sekitar bulan Maret, kurang lebih sekitar 9 bulan sebelum tulisan ini dibuat. Hari demi hari yang berhasil dilewati, menyiratkan harapan segera pulihnya keadaan. Namun dari data yang ada, pandemi kian menjadi di Indonesia.Tercatat per-tanggal 30 Desember 2020, kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 735.124, dengan total yang sembuh sebanyak 603.741 dan kasus meninggal 21.944. 

“Dalam setiap krisis, selalu ada peluang”. Sebagian orang selalu percaya dengan kalimat itu, tidak terkecuali penulis. Menghadapi krisis pandemi, bukan berarti terus ditekan berbagai permasalahan. Kesempatan untuk melakukan usaha memperbaiki keadaan selalu ada. Salah satu kesempatan itu adalah “Pasar Rakyat”. Masyarakat Indonesia sudah dan mulai tambah menyadari mengenai pentingnya keterampilan. Pelatihan keterampilan mulai masif di mana-mana. Hasil dari pelatihan tersebut, kemudian diberdayakanlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sedikit banyak UMKM akan menjadi prospek yang menjanjikan dalam usaha membangun kesejahteraan. Semakin menjamurnya UMKM atau wirausaha masyarakat, akan semakin menunjang pemerataan ekonomi. Pasar rakyat kemudian hadir menjadi media atau ruang publik bagi masyarakat dalam memasarkan produknya (UMKM). Keberadaan pasar rakyat bisa menjadi ajang pameran budaya, kuliner, dan segala sesuatu yang menjadi khas dari daerah tempat berlangsungnya pasar rakyat. Pasar rakyat juga menjadi tempat interaksi dan silaturahmi. Pasar rakyat akan menjadi media kreatif dan kolaboratif dengan berbagai kemanfaatan yang bisa dirasakan apabila dapat dilaksanakan secara optimal. Dalam kondisi seperti saat ini, euforia pasar rakyat juga tentu tidak boleh abai akan protokol kesehatan. Terlebih akan sangat baik apabila pasar rakyat juga bisa jadi sarana sosialisasi dan edukasi tentang adaptasi kebiasaan baru tersebut.

Pemain adalah objek penting dalam suatu kegiatan. Di pasar rakyat, siapa sajakah yang bisa menjadi pemain? Atau dalam kalimat yang lebih sederhana: siapakah yang bisa menjajakan dagangannya di pasar rakyat? Jawabannya, tentu siapapun, lagi, tanpa terkecuali. Dengan kemauan, kemampuan dan keterampilan, semua bisa membuat sesuatu yang berharga. Bentuknya beragam, bisa benda pakai, benda hias, sampai makanan. Dalam hal ini, kerjasama menjadi sangat penting dalam melakukan suatu pekerjaan. Kerjasama tersebut dapat dilakukan bersama keluarga, atau bersama sahabat. Jelasnya, bekerja bersama orang-orang dekat akan lebih menjanjikan karena seharusnya bisa lebih mudah dalam diskusi visi dan meracik misi. Di setiap krisis selalu ada peluang dan di setiap kesusahan selalu ada kemudahan. Bangkit bersama sahabat dengan berkreasi dan berkolaborasi di pasar rakyat, bukankah itu hebat?

2020 dan menuju 2021, di mana era industri sudah memasuki era baru, era digital. Perubahannya di rasakan dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk dalam sektor pemasaran. Digitalisasi dalam sektor pemasaran (dalam tulisan ini mengacu ke pasar rakyat), mengharuskan semua pelaku usaha atau pemain di pasar, harus belajar kembali. Sedikit-sedikit memahami tentang teknologi apa saja yang akan digunakan, bagaimana cara menggunakannya, lalu apa saja yang bisa kita manfaatkan dari teknologi tersebut. Pemasaran kemudian tidak lagi hanya dilakukan secara konvensional, melainkan juga secara digital. Jangkauan bukan lagi antar tetangga melainkan bisa lintas kota. Jaringan relasi bukan hanya saat bertemu di luar jaringan, namun juga di dalam jaringan. Disadari sendiri, manusia sejatinya adalah makhluk yang pandai beradaptasi. Adaptasi yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Jika tidak bisa, mau tertinggal sejauh mana?

Akhir cerita, pasar rakyat bisa menjadi optimal dengan berbagai inovasi dan kreasi dalam berbagai objek penyususnnya. Pelatihan keterampilan, sosialisasi ekonomi kreatif, bekerja sama, menguatkan relasi,  dan pengenalan teknologi digitalisasi, adalah sebuah runtutan proses yang memang menghabiskan waktu dan materi. Namun anggaplah itu sebuah pengorbanan dengan keyakinan akan hasil yang optimal, bukankah akan menjadi bentuk pemberdayaan yang menjanjikan? 

#AdiraFinanceID #BangkitBersamaSahabat #FestivalPasarRakyat