04 Februari 2021 | Penulis : Armensyah Lubis

04 Februari 2021 |
Penulis : Armensyah Lubis

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

Pasar rakyat merupakan sektor penggerak ekonomi kerakyatan yang memiliki peranan strategis sebagai tonggak perekonomian yang mempunyai potensi besar dan mampu menggerakkan roda perekonomian, terutama di daerah. Dalam keadaan ekonomi yang buruk sekalipun, yakni masa krisis, pasar rakyat (tradisional) tetap mampu menunjukkan tajinya di tengah gelombang lesunya aktifitas ekonomi dengan tetap bertahan dan memberikan pelayanan ke seluruh lapisan masyarakat.

Karena begitu pentingnya peranan pasar rakyat ini, maka pemerintah memberikan perhatian yang cukup serius dengan menggalakkan program revitalisasi pasar rakyat yang dikomandoi oleh Kementerian Perdagangan yang tertuang dalam UU No. 7 Tahun 2014. Tujuan dari revitalisari pasar rakyat ini adalah memperkuat eksistensi, citra, dan daya saing pasar rakyat sehingga dapat bertahan di tengah gempuran pasar-pasar modern dan tentunya juga diharapkan mampu memajukan ekonomi kerakyatan. Maklum saja, kehadiran pasar-pasar modern seperti supermarket dan hypermarket dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan pasar tradisional dan yang lebih buruknya lagi ialah mengubur mata pencaharian sebanyak 12 juta pedagang pasar tradisional.

Tantangan yang dihadapi oleh pasar rakyat bukan hanya melulu soal menjamurnya pasar-pasar yang lebih keren, melainkan juga infrastruktur penunjang di dalam pasar. Citra pasar rakyat yang kolot, ketinggalan zaman, kumuh, lecek dan bau sudah merupakan rahasia umum. Namun, hal itu disikapi dengan bijak oleh pemerintah melalui program revitalisasi. Tampilan pasar tradisional perlahan tapi pasti mengubah anggapan tersebut. Sejumlah pasar rakyat bertransformasi wajah menjadi lebih layak bagaikan public figure yang baru saja melakukan operasi plastik.

Permasalahan lainnya adalah digitalisasi pasar. Barangkali istilah digitalisasi pasar (digitalisasi pasar tradisional) adalah barang baru bagi para pedagang rakyat. Hal itu tidak bisa dilepaskan dari mayoritas para pedagang di pasar ini buta teknologi (gagap teknologi). Kebutuhan akan integrasi teknologi pada pasar rakyat terasa amat mendesak terutama di tengah pandemi covid-19 ini.

Seperti diketahui bahwa kerumunan merupakan tempat penyebaran yang paling rentan dan pasar adalah salah satunya. Oleh karenanya belanja secara daring menjadi alternatif bagi masyarakat dan juga sebagai fondasi agar tetap eksis di tengah pandemi ini.

Contoh dari penerapan digitalisasi pasar rakyat ini adalah pasar Sehat Sabilulungan di Kabupaten Bandung yang saat ini menjadi acuan utama (pilot project). Di era yang serba teknologi ini maka perlu rasanya untuk meneruskan dan memperluas penerapannya di pasar-pasar rakyat lainnya yang tersebar mulai dari Sabang hingga Merauke. Seluruh hasil-hasil bumi seperti pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan maupun hasil kreasi dan kerajinan masyarakat sendiri bisa ditransaksikan secara elektronik sehingga pasar rakyat ini bisa mengimbangi pasar-pasar modern yang sudah lebih dahulu melakukannya.

Di sisi lain, pasar rakyat ini tidak boleh dibiarkan sendirian. Harus ada tangan-tangan lain selain tangan pemerintah untuk membekali dan memberikan pendampingan kepada para pedagang pasar tradisional sebagai suplemen dan vitamin pelengkap. Salah satu bentuk pendampingan tersebut ialah melalui kegiatan Festival Pasar Rakyat seperti yang diusung oleh Adira Finance dengan berbagai aktifitas seperti pemberdayaan, sosialisasi, kesenian, dan budaya untuk mendorong pasar rakyat menjadi ruang publik yang kreatif. Dengan Festival Pasar Rakyat ini tampaknya bahwa terminal akhir yang ingin dituju adalah pasar rakyat yang applicable dan up to date. Pasar ini tidak lagi hanya sebatas kumpulan para pedagang beserta barang dagangannya, melainkan juga ruang publik yang kekinian. Di tengah pandemi covid-19 sosialisasi kepada para pedagang tentang pentingnya menaati protokol kesehatan adalah sebuah hal yang mutlak sehingga para pembeli tidak merasa takut dan khawatir untuk berbelanja di pasar rakyat karena para pedagang betul-betul mengencangkan sabuk disiplin protokol kesehatan.

Dengan demikian, digitalisasi pasar tradisional merupakan langkah untuk mempertajam taji pasar rakyat dan sekaligus untuk memperpanjang nafas pasar ini. Selain itu, Festival Pasar Rakyat yang diinisiasi oleh Adira Finance menambah dosis daya tahan sehingga menjadikan pasar rakyat yang lebih kreatif. Kolaborasi antara pemerintah dan tangan-tangan swasta (masyarakat) dalam memajukan pasar rakyat merupakan upaya yang menjanjikan, apalagi di tengah pandemi ini. Pandemi covid-19 yang telah meruntuhkan sendi-sendi perekonomian membutuhkan sentuhan yang berpihak. Kerja sama antara pemerintah, swasta dan para pedagang dapat dikatakan sebagai tangga menuju bangkitnya kembali siklus roda perekonomian seperti semula. Lingkaran kerja sama tersebut mempraktikkan apa yang tertuang dalam praktik ekonomi gotong royong. Bangkit bersama sahabat mewakili jiwa semangat yang ditunjukkan oleh gandengan tangan pemerintah, swasta dan para pedagang. Sebab ketiganya itu ialah bagaikan sebuah persahabatan yang harus secara bersama-sama meramu segala strategi sehingga rasa persahabatan tersebut tetap terikat dalam simpul persaudaran dan kemanusiaan dalam bingkai Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.