04 Februari 2021 | Penulis : Endhiq Anang P

04 Februari 2021 |
Penulis : Endhiq Anang P

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

Pada zaman Yunani kuno, Socrates sang filsuf ternama sangat sering pergi ke pasar. Di sana, dia berjalan ke sana-kemari sambil mengajukan pertanyaan apa saja kepada siapa saja yang ditemuinya. Dari situlah ajaran filsafat dirumuskan. Pada awal masa kemerdekaan Indonesia, sejumlah mahasiswa, aktivis dan anak-anak muda juga sering ditemukan nongkrong di pasar. Dari sinilah kelak lahir apa yang disebut Seniman Senen. Dua fakta ini memperlihatkan bahwa pasar tidak semata tempat jual beli, melainkan lebih daripada itu.

Di pasar orang-orang bertemu, begitu pula barang-barang dan kepentingan. Penduduk lokal dan pendatang, para pedagang, konsumen atau sekadar pengunjung, dipertemukan dalam satu ruang solidnya. Kelahiran peradaban besar bahkan bertautan pula dengan pasar. Kolonialisme, misalnya, diawali dengan keinginan bangsa Eropa mencari pasar rempah-rempah untuk diperjualbelikan di pasar Eropa. Bila ada perumpamaan “Garam di laut, asam di gunung, bertemunya di belanga” maka ibarat belangalah pasar itu. Ialah titik temu keberagaman, selain sebagai pusat ekonomi rakyat dan interaksi sosial.

Keberagaman fungsi pasar inilah yang diyakini membuatnya sanggup bertahan menghadapi perubahan zaman. Adapun karakter jual-beli pasar tradisional atau pasar rakyat yang khas, tentu saja, adalah daya tariknya. Hanya di pasar rakyat, pedagang dan konsumen bisa bertegur sapa dan bertemu muka untuk melakukan tawar menawar hingga mencapai sebuah kesepakatan. Maka pasar rakyat pun mesti selalu ramai. Keramaian yang mampu menciptakan sebuah kampung atau pemukiman baru, bahkan sejumlah kota di masa lalu. Keramaian pasar sudah teruji pula saat modernisasi melahirkan supermarket dan mini market, disusul teknologi yang memperkenalkan internet kepada dunia. Di tengah gempuran semua itu, pasar rakyat masih tetap ramai, setidaknya hingga datang virus Covid-19 yang menciptakan pandemi dan mengubah segalanya.

Pandemi memaksa seisi dunia untuk berbenah. Demi mencegah penyebaran virus, protokol kesehatan wajib diterapkan oleh masyarakat dan ruang gerak manusia dibatasi, terutama di ruang publik. Gara-gara Corona, orang-orang takut keluar rumah, apalagi berbaur di tengah keramaian. Mereka yang membutuhkan bahan makanan atau barang kebutuhan lain lebih memilih berbelanja secara online. Maka sepilah pasar dari konsumen dan pengunjungnya. Pada titik ini, ramalan Jayabaya seolah menemukan pembenaran. Bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah ketika pasar kehilangan riuhnya.

Kini sudah hampir setahun setelah kasus pertama Covid-19 merebak di Indonesia. Sekilas, dunia seolah sudah berjalan seperti biasa, tapi nyatanya tidak demikian. Pandemi telah melahirkan era baru dimana pembatasan jarak adalah harga mati, kecuali bagi mereka yang tidak takut mati akibat Covid-19. Pada era ini, penggunaan teknologi didorong sedemikian rupa hingga mencapai titik tertinggi dari apa yang pernah dicapai pada tahun-tahun sebelumnya. Inilah masa ketika virtualisasi dan digitalisasi menjadi pilihan yang disarankan demi kebaikan bersama dan keselamatan semua orang.

Menuju Pasar Rakyat Masa Depan

Sebagai fasilitas perdagangan terpadu, pasar mewadahi sekian banyak kepentingan yang berjalan di bawah atapnya, pun sekian banyak orang. Namun, sekarang semua itu tengah disatukan oleh pandemi. Baik pedagang maupun konsumen adalah korban yang terjebak di tengah-tengahnya. Yang sama-sama berbagi kecemasan atas risiko penularan Covid-19, sama-sama merasakan susahnya tetap tinggal di rumah, sama-sama mendapati kenyataan terkena PHK, terpangkas gaji, sampai ditinggal konsumen. Sebagai korban pandemi yang senasib sepenanggungan, satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk meringankan beban tersebut adalah lewat gotong royong, saling membantu.

Sejalan dengan itu, melalui Adira Finance Syariah, Adira Finance menggelar program CSR bertajuk Festival Pasar Rakyat (FPR) 2020 dari November hingga Desember 2020. Dengan mengangkat tema besar #BangkitBersamaSahabat, Adira Finance menjadikan FPR 2020 sebagai saluran untuk membantu ekosistem pasar rakyat, baik pedagang maupun konsumen, bangkit kembali bersama-sama. Selain memberikan edukasi mengenai protokol kesehatan di pasar, seperti mencuci tangan, memakai masker dan selalu menjaga jarak, Adira Finance juga memperkenalkan digitalisasi kepada para pedagang pasar melalui program edukasi, pelatihan dan pendampingan.

Adira Finance menyadari, di era kebiasaan baru ini, pasar yang hilang riuhnya tidaklah mesti berarti buruk, melainkan bisa sebaliknya. Itulah pertanda bahwa sudah tiba waktunya bagi pasar rakyat untuk berevolusi ke wujud barunya melalui proses adaptasi teknologi. Yaitu, pasar rakyat yang lebih maju dan lebih sehat di masa depan, juga lebih aman dan menguntungkan bagi kita semua.