10 Juni 2019 | Penulis : Sahabat Lokal

10 Juni 2019 |
Penulis : Sahabat Lokal

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

Sudah nggak bisa dipungkiri kalau kita sebagai manusia butuh yang namanya hiburan. Hiburan bisa membantu kita untuk menghilangkan rasa penat dari aktivitas kita yang luar biasa padat. Informasi kali ini datang dari Pulau Jawa, di mana berbagai hiburan tradisional masih “hidup” sampai sekarang. Mau tahu apa saja? Yuk, simak informasinya di bawah ini!

1. Sinden

Biasa juga disebut dengan waranggana di mana “wara” artinya “perempuan” dan “anggana” artinya “sendiri”. Sinden adalah hiburan dari Jawa di mana seorang perempuan akan tampil melantunkan lagu-lagu Jawa yang diiringi oleh bunyi gamelan. Sinden berasal dari kata pasindhian yang berarti pelantun lagu.

sumber : nasionalisme.co

Profesi sebagai Sinden dulunya dikhususkan sebagai profesi pejabat kerajaan loh, Sahabat. Profesi Sinden ini disebut juga sebagai watak I jro (golongan dalem atau abdi dalem dalam bahasa Jawa).

2. Wayang

Siapa di sini yang masih nggak tahu apa itu wayang? Pertunjukan yang satu ini berkembang pesat khususnya di pulau Jawa dan Bali. Salah satu cerita yang paling sering diceritakan adalah Kisah Ramayana dan Mahabharata.

sumber: flickr.com

Wayang sendiri memiliki beberapa jenis, antara lain wayang kulit, wayang bambu, wayang rumput, wayang orang, wayang kayu, wayang motekar dan lain sebagainya. Mungkin Sahabat bertanya-tanya, “memang seberapa tua usia kesenian wayang ini?”. Bukti tertua yang mencatat tentang kesenian wayang terpahat pada Prasasti Kuti di Joho, Sidoarjo yang dibuat di kisaran tahun 840M, Sahabat!

Pertunjukan wayang membutuhkan energi yang prima baik dari sisi penampil maupun penonton. Karena pada dasarnya, pertunjukan wayang ini dimainkan semalaman, jadi penonton dan pemain harus dalam kondisi terbaik, ya.

3. Tarian

Tari tradisional Jawa sudah ada sejak zaman dahulu lho, Sahabat. Dari masa Jawa Kuno, hanya ada dua jenis tarian, Manigel dan Mangrakat. Manigel adalah sebutan untuk tarian yang tidak menggunakan topeng, sedangkan Mangrakat adalah sebutan untuk tarian yang menggunakan topeng. Selain Mangrakat, ada sebutan lain untuk tarian yang memakai topeng, yaitu Matapukan dan Manapal.

sumber : mahligai-indonesia.com

Menari dulu pun terhitung sebagai profesi, Sahabat. Para penari ditugaskan untuk menyanyi dan menari saat menghibur para petinggi kerajaan. Selain untuk menghibur para petinggi kerajaan, ada juga tarian yang dikhususkan untuk para pejabat.

Menurut Prasasti Paradah tahun 943M dan Prasasti Alasantan tahun 939M, ada 4 jenis tarian untuk para pejabat kerajaan, yaitu tuwung, bungkuk, rawanahasta, dan ganding. Mengapa dikhususkan untuk para pejabat kerajaan? Karena tarian tersebut digunakan dalam upacara penetapan sima (pemberian penghargaan kepada pejabat berupa tanah yang dijadikan daerah perdikan atau bebas pajak).

4. Lawak

Nggak lengkap rasanya jika hiburan nggak menghasilkan tawa bahagia. Sumber hiburan yang satu ini tercatat dalam Prasasti Poh (905M) di mana ada menyebutkan tentang juru lawak.

Ada dua jenis pelawak pada zaman itu, lawakan dengan menggunakan kata-kata yaitu Marirus dan lawakan dengan gerakan yaitu Mabanol.

Kalau sekarang para pelawak bisa lebih dari 1 orang, dulu hanya ada 2 orang pelawak, masing-masing dari dua desa yang berbeda. Si Lugundung dari Desa Rasuk dan Si Kulika dari Desa Lunglang. Mereka dibayar atas usaha mereka menghibur banyak orang dengan kain 1 yugala dan emas 6 masa. Ternyata pelawak adalah profesi lintas zaman ya, Sahabat!

5. Musik

Dengan berbagai macam irama, hiburan musik terbukti dari Prasasti Waharu 1 dengan sebutan mapadahi. Profesi ini dikhususkan untuk golongan dalam atau dalam bahasa Jawa disebut watak I jro.

sumber: flickr.com

Mapadahi sendiri berasal dari kata padahi yang berarti kendang. Dalam upacara sima, Mapadahi atau seorang pengendang akan menabuh kendang setelah acara pesta makan selesai. Penabuh kendang cenderung terbentuk dalam kelompok dan hal tersebut juga dicatat dalam Prasasti Mulak (878M). Kesenian musik tradisional Jawa terbukti sudah eksis sejak ratusan tahun lalu, Sahabat.

Sahabat, itulah hiburan dari masa Jawa Kuno yang masih hidup sampai saat ini. Biasanya waktu memakan segalanya, namun jangan sampai kesenian-kesenian ini juga hilang dimakan zaman, ya. Semoga semua hiburan tradisional ini tetap bertahan agar bisa dinikmati generasi selanjutnya!