17 Mei 2019 | Penulis : Sahabat Lokal

17 Mei 2019 |
Penulis : Sahabat Lokal

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

Membahas tentang kuliner di Indonesia memang nggak akan ada habisnya. Kali ini menuju ke daerah Ponorogo yang terkenal akan kuliner legendarisnya. Kuliner yang juga menjadi oleh-oleh wajib jika Sahabat berkunjung ke Ponorogo tersebut bernama Jenang Mirah. Jenang ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan masih eksis hingga hari ini.

Jenang Mirah memiliki tekstur yang empuk dan nggak lengket. Cita rasa yang begitu khas dari perpaduan rasa manis dan gurih menjadi daya tarik penganan ini. Apa sih sebenarnya jenang Mirah itu dan bagaimana cara membuatnya? Yuk, simak informasi lengkapnya di bawah ini, Sahabat!

Sudah Ada Sejak Tahun 1955

Percaya atau nggak, ternyata Jenang Mirah ini sudah ada sejak tahun 1955, lho. Pembuat Jenang Mirah adalah seorang perempuan berusia 75 tahun, beliau bernama Mbah Mirah. Sahabat dapat mengetahui seperti apa beliau dengan melihat foto yang terpampang di bagian kemasan Jenang Mirah ini. Kemasan ini yang jadi salah satu ciri khas Jenang Mirah.

sumber : blogspot.com

Awalnya Mbah Mirah ini mulai merintis usaha jenangnya dari level bawah. Beliau menjajakan jenang ini dengan berjalan kaki ke beberapa tempat, mulai dari pasar, rumah ke rumah, desa, hingga ke stasiun. Lama kelamaan Jenang Mirah mulai dikenal oleh masyarakat dan banyak yang menganggapnya sebagai oleh-oleh khasi Ponorogo.

Sampai akhirnya, resep pembuatan jenang ini diturunkan kepada anak dan cucunya. Namun, siapa sangka bahwa usaha jenang ini berhasil mengangkat perekonomian warga di Desa Losari, Kecamatan Jetis, Ponorogo.

Pembuatan Jenang Mirah

Meskipun sudah menjadi oleh-oleh khas Ponorogo, pembuatannya masih dilakukan dengan cara tradisional, yaitu menggunakan tungku dan juga kayu bakar. Bahan-bahan untuk membuat jenang ini adalah beras ketan, gula jawa, dan juga santan. Jadi, bahan-bahannya pasti aman, terbebas dari bahan kimia, Sahabat.

Cara pembuatan Jenang Mirah dimulai dengan mencampurkan tepung beras ketan dengan santan dan gula jawa, kemudian diolah di atas tungku hingga warnanya berubah menjadi kecoklatan. Lama-kelamaan olahan ini akan berubah menjadi jenang.

Prosesnya memakan waktu yang cukup lama bahkan bisa sampai berjam-jam untuk bisa matang sepenuhnya. Jadi, wajar saja jika harganya sedikit lebih mahal dari jenang pada umumnya, Sahabat.

sumber : travelingyuk.com

Pengemasan jenang Mirah dibagi menjadi tiga ukuran, yaitu kecil, sedang dan besar. Meskipun terbuat dari bahan alami, jenang ini nggak ditambahkan bahan pengawet, lho. Jenang ini dapat bertahan hingga berminggu-minggu, Sahabat. Jadi cocok jika dijadikan oleh-oleh untuk keluarga atau kerabat dekat saat kembali dari Ponorogo.

Jenang yang Menembus Pasar Luar Negeri

Cita rasanya yang khas berupa rasa manis dan gurih membuat Jenang Mirah ini menjadi begitu populer. Bahkan, nggak hanya terkenal di Indonesia saja, namun sudah bisa merambah pasar luar negeri.

Hal ini nggak lepas dari kerja keras dari para TKW dan TKI yang membawa Jenang Mirah sebagai oleh-oleh kepada atasan yang mempekerjakan mereka, Sahabat. Selain itu makanan ini juga kerap dibawa oleh para santri Pondok Modern Gontor dan Pondok Pesantren Ngabar yang berasal dari luar negeri.

Hal ini tentunya menambah daya tarik Indonesia ke berbagai negara lain sekaligus membuktikan bahwa kuliner di Indonesia memang unik dan juga lezat. Selain itu, hal ini juga menambah perekonomian bagi masyarakat Ponorogo yang ikut andil dalam pembuatan Jenang Mirah ini.

Meskipun termasuk kuliner jadul namun nggak membuat Jenang Mirah termakan zaman. Jadi, jika Sahabat berkunjung ke Ponorogo jangan lupa untuk membeli Jenang Mirah ini, ya!