17 Mei 2019 | Penulis : Sahabat Lokal

17 Mei 2019 |
Penulis : Sahabat Lokal

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

“Naik kereta api… tut… tut… tut… Siapa hendak turut?”

Sahabat yang lahir di tahun 90-an, tentunya nggak asing lagi dengan lagu ciptaan Saridjah Niung Bintang Soedibio atau Ibu Soed di atas. Lagu yang diciptakan pada tahun 1960-an ini menandakan bahwa kereta api telah digunakan sejak zaman dulu sebagai alat transportasi di berbagai wilayah di Indonesia. Termasuk di Madura, tempat Kereta Inspeksi Sultan Madura dulunya beroperasi.

Kereta api kayu yang sekarang diabadikan di Museum Kereta Api Ambarawa ini menyimpan banyak cerita sejarah. Ingin tahu lebih jauh tentang bagaimana dulu kereta ini beroperasi? Yuk, simak ceritanya dalam artikel ini, Sahabat!

Perjalanan Kereta Inspeksi Sultan Madura dan Sejarah Jalur Kereta di Madura

 

Kereta Inspeksi Sultan Madura dibuat pada tahun 1879. Kereta kayu ini pertama kali dioperasikan pada 27 Mei 1912 oleh Perusahaan Kereta Api Swasta Madoera Stoomtram Maatschapijj (MS). Pada masa itu, kereta ini digunakan oleh Sultan Madura sebagai kereta inspeksi lintas Kereta Api di Madura.

Kereta inspeksi ini memiliki gerbong yang dilengkapi dengan teras untuk bersantai. Untuk keamanan, teras tersebut dikelilingi oleh pagar kayu berteralis besi. Di sisi gerbong, terdapat undakan anak tangga yang digunakan untuk naik turun gerbong kereta.

Sebelum kehadiran kereta inspeksi ini, di Madura sebenarnya sudah ada kereta yang beroperasi, lho, Sahabat. Jadi, Kereta Inspeksi Sultan Madura ini bukan yang pertama, ya. Namun, jalur-jalur yang dilalui kereta api tersebut memang dibuka secara perlahan.

Jalur kereta api pertama dibuka mulai dari Kamal Bangkalan hingga Kalianget, sepanjang tahun 1898-1901. Adapun tahapan pembukaannya adalah sebagai berikut: jalur Kamal-Bangkalan dibuka pada tahun 1898 dan Bangkalan-Tunjung pada tahun 1899. Disusul Tunjung-Kwanyar, Tanjung-Kapedi, dan Kapedi-Tambangan dibuka pada tahun yang sama, yaitu 1900.

Kemudian jalur Tambangan-Kalianget dibuka pada tahun 1899, Kwanyar-Blega dan Tanjung-Sampang pada tahun 1901. Terakhir adalah jalur Sampang-Blega, juga dibuka pada tahun 1901. 

sumber : heritage.kai.co

Selain digunakan sebagai angkutan massal, kereta api ini dulunya digunakan untuk mendukung perekenomian pemerintah Hindia-Belanda dan VOC. Yaitu, untuk mendistribusikan hasil bumi dengan jalur Sumenep, Pamekasan, Sampang, hingga Kamal.

Namun, seiring melemahnya pengaruh feodal masa kolonial, pendistribusian ekonomi ke Sumenep mulai berkurang. Dampaknya, pada awal tahun 1970 sampai 1980-an kereta api ke Sumenep mulai berhenti beroperasi. Terhentinya pengoperasian kereta api di Sumenep menyebabkan jalur Pamekasan-Sumenep ditutup dan dipindahkan ke Pamekasan-Socah (Bangkalan).

Meski kebutuhan masyarakat Madura akan transportasi begitu tinggi, nyatanya hal tersebut bukanlah jaminan kereta api akan terus beroperasi. Kereta api memang mempercepat laju perekonomian dan pendistribusian barang dan jasa. Namun, penggunaan transportasi ini juga menimbulkan dilema bagi PJKA.

Penggunaan bahan bakar batu bara untuk menggerakkan kereta api, justru membuat PJKA mengalami kebangkrutan. Hal yang sama juga terjadi ketika bahan bakar diganti dengan biosolar maupun diesel. Bukannya memberi solusi, penggantian bahan bakar ini justru menambah kerugian.

Nasib Kereta Inspeksi Sultan Madura di Masa Kini

Setelah penggunaan kereta api sebagai alat transportasi mulai ditinggalkan, bagaimana nasib Kereta Inspeksi Sultan Madura? Kereta yang pernah digunakan oleh Sultan Madura ini jadi nggak terawat dengan baik, Sahabat. Pada tahun 1985, Kereta Inspeksi Sultan Madura ditemukan dalam kondisi tertutup lumpur di Balai Yasa Kamal Madura. Sayang sekali, ya.

Pada tahun yang sama, bekas kereta inspeksi ini kemudian dipindahkan dari Kamal, Madura ke Sutopo, Madura. Setelah direnovasi, kereta bersejarah tersebut dipajang di Museum Kereta Api Ambarawa.

Adapun lokasi museum tersebut berada di Jalan Stasiun, Jl. Panjang Kidul No.1, Panjang Kidul, Panjang, Kec. Ambarawa, Kab. Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Tujuan penempatan kereta ini di Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebagai bahan edukasi sejarah perkeretaapian di Madura.

Jadi, jika Sahabat ingin menyaksikan langsung kegagahan Kereta Inspeksi Sultan Madura di masa lampau, langsung saja berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa, ya. Yuk, pelajari sejarah langsung dari sumbernya.