15 April 2019 | Penulis : Sahabat Lokal

15 April 2019 |
Penulis : Sahabat Lokal

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

Selain gudeg dan bakpia, ternyata Yogyakarta masih memiliki satu kuliner yang legendaris, yaitu kipo. Kipo adalah kudapan manis berukuran mungil dan berwarna hijau. Rasanya yang manis legit ditambah gurih pada bagian kulit luarnya membuat paduan yang sangat lezat di mulut.

Di balik rasanya tersebut ternyata kudapan legendaris ini memiliki nilai sejarah yang patut untuk Sahabat ketahui, lho. Yuk, simak di bawah ini untuk informasi lengkap tentang kipo!

Awal Mula Ditemukannya Kembali Kipo

Sebetulnya, jajanan ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno dan Mataram Islam. Namun, seiring runtuhnya kerajaan tersebut juga membuat kipo menghilang dari peradaban. Sampai suatu ketika pada tahun 80-an, kipo mulai diperkenalkan kembali oleh Paijem Djito Suhardjo dan nama kipo pun mulai terangkat lagi.

sumber : jajanyogyakarta.com

Untuk Sahabat yang belum tahu siapa Paijem Djito Suhardjo, beliau adalah pembuat jajanan tradisional khas Yogyakarta. Pada perlombaan panganan tradisional, beliau mengandalkan kipo ini karena dinilai sangat sederhana dalam pembuatannya,namun memiliki cita rasa yang istimewa. Dari perlombaan tersebut kipo mulai dikenal masyarakat lagi.

Menurut beberapa cerita, asal mula nama kipo sendiri karena banyak orang yang bertanya “iki opo” yang berarti “ini apa” dalam bahasa Indonesia, ketika melihat penganan ini. Akhirnya Ibu Djito menggunakan nama kipo sebagai label camilan khas Kotagede ini.

Pembuatan Kipo yang Tradisional

Kipo memiliki tekstur yang kenyal dengan bentuk lonjong berwarna hijau. Kipo ini juga memiliki ukuran yang kecil sehingga bisa dilahap dalam sekali gigit. Ketika Sahabat mulai mengunyahnya, Sahabat akan menemukan paduan unik dari rasa gurih dan manis pada bagian dalamnya. Biasanya untuk isian dari kipo ini menggunakan gula jawa dan parutan kelapa.

Cara membuatnya cukup sederhana, adonan utamanya terdiri dari tepung beras dan tepung ketan. Keduanya dicampur dengan daun suji dan daun pandan. Hal ini bertujuan untuk memberikan aroma yang wangi dan warna hijau alami pada adonan kipo.

sumber : sumberyogyakarta.com

Setelah itu adonan dicetak menggunakan piring yang terbuat dari tanah liat lalu dipanggang dengan alas daun pisang. Saat hampir matang, kipo baru diisi dengan adonan parutan kelapa dan gula jawa. Kemudian dilipat dan dipanggang lagi sampai matang. Hampir mirip dengan klepon hanya saja kipo dipanggang dalam prosesnya. Setelah kipo matang baru ditaruh di atas daun pisang sebagai media penyajiannya.

Kipo Hampir Punah

Walau sudah diangkat kembali menjadi salah satu penganan tradisional khas Kotagede, namun keberadaan kipo juga belum bisa dikatakan aman. Hanya ada satu tempat yang masih bertahan untuk menjual kipo ini, yakni Kios Bu Djito di Jalan Mondorakan Nomor 27 Kotagede. Sahabat bisa membeli kipo di sini dengan harga Rp2.000,- untuk 3 kipo, murah banget kan Sahabat?

sumber : seeyogyakarta

Menurut penuturan dari Rahayu, anak Bu Djito, ibunya sudah berjualan sejak tahun 1946 dan baru dipegang olehnya sekitar tahun 1990. Dulunya Bu Djito membuka lapak di pinggir jalan depan rumahnya sampai pada tahun 1987 ketika nama kipo mulai naik daun. Resep aslinya sendiri ternyata sudah diturunkan dari orang tua Bu Djito sampai sekarang masih dipertahankan kualitas rasanya.

Keberadaannya memang sudah langka namun masih banyak orang yang mencari kudapan manis ini, lho Sahabat. Sahabat bisa langsung mampir ke Kios bu Djito di Kotagede untuk mencicipi rasa legendaris dari kipo ini, ya!