30 Mei 2018 | Penulis : Sahabat Lokal

30 Mei 2018 |
Penulis : Sahabat Lokal

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

Festival Tabuik merupakan sebuah perayaan tahunan masyarakat Sumatera Barat untuk memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW yaitu Hussein Bin Ali, yang gugur di Perang Karbala pada tanggal 10 Muharam. Festival ini sangat populer di kalangan masyarakat Pariaman dan telah berlangsung sejak abad ke-19 Masehi. Selain untuk memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Festival Tabuik juga merupakan wujud syukur dan perayaan atas datangnya bulan Muharam.

Tabuik sebenarnya berasal dari kata “Tabut” yang memiliki arti kotak kayu. Menurut sejarah dan riwayat nabi, setelah meninggalnya cucu nabi, jenazah Husein dimasukkan ke kotak kayu dan dibawa terbang ke langit oleh makhluk yang disebut Buraq.

Buraq digambarkan sebagai makhluk berbentuk kuda yang memiliki sayap, bisa terbang dan berkepala manusia. Setiap tahun, masyarakat Pariaman membuat tiruan Buraq dengan Tabut di punggungnya untuk mengenang peristiwa saat jenazah Hussein diterbangkan ke langit oleh Buraq.

Sumber: Instagram

Masyarakat Pariaman sudah melaksanakan festival budaya ini secara turun temurun sejak sekitar tahun 1826-1828 Masehi. Namun, pada saat itu festival ini masih sangat kental dengan budaya Timur Tengah karena terpengaruh budaya Islam yang dibawa oleh pedagang India yang berdagang di kawasan Sumatera. Kemudian pada tahun 1910 Masehi terjadilah kesepakatan antar nagari (kesatuan masyarakat setara tingkat desa)  untuk melaksanakan festival ini dengan menyesuaikannya dengan adat Minangkabau. Festival Tabuik inilah yang diselenggarakan hingga saat ini.

Awalnya Festival Tabuik hanyalah satu yaitu Tabuik Pasa. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pada tahun 1915 munculah kesepakatan baru antar nagari untuk melaksanakan festival serupa di daerah seberang yang disebut Tabuik Subarang.

Sumber: satuislam.com

Hingga saat ini, Festival Tabuik terdiri dari 2 jenis yaitu Festival Tabuik Pasa dan Festival Tabuik Subarang. Hal mendasar yang membedakan keduanya adalah lokasi pelaksanaan saja, selebihnya semua prosesi keduanya tidak ada yang berbeda.

Rangkaian prosesi Festival Tabuik terdiri dari 7 langkah yaitu:

1. Mengambil tanah pada tanggal 1 Muharam

2. Menebang batang pisang pada tanggal 5 Muharam

3. Mataam pada tanggal 7 Muharam dan dilanjutkan mengarak jari-jari pada malam harinya

4. Ritual Mangarak Saroban pada tanggal 8 Muharam

5. Ritual Tabuik Naik Pangklek

6. Hoyak Tabuik

7. Melarung ke laut menjelang magrib.

Ritual Tabuik Naik Pangklek merupakan puncak Festival Tabuik yang dahulu selalu dilaksanakan tepat pada tanggal 10 Muharam, namun saat ini telah berubah dilaksanakan dalam rentang tanggal 10 hingga 15 Muharam.

Setiap tahunnya, Festival Tabuik ini sangat menarik antusias masyarakat dari seluruh penjuru Sumatera Barat dan para wisatawan domestik maupun mancanegara. Pantai Gandoriah yang menjadi tempat pelarungan seolah menjadi lautan manusia saat festival ini berlangsung. Nah, apakah Sahabat tertarik untuk berwisata menyaksikan festival ini di tahun depan?