26 Juli 2021 | Penulis : Tim Sahabat Lokal

26 Juli 2021 |
Penulis : Tim Sahabat Lokal

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

Sahabat, Pulau Papua selain umum dikenal karena keindahan alamnya, juga dikagumi karena kekayaan budaya dan hasil bumi yang melimpah. Tak heran, pulau yang terletak di ujung timur Indonesia ini dijuluki “Surga Kecil yang Jatuh Ke Bumi”. 

Dari begitu banyaknya kesenian tari asal Papua yang kerap diperlihatkan pada berbagai kesempatan acara, salah satu yang masih digelar secara tradisi adalah Ararem. Apa itu Ararem? Yuk simak informasi menariknya Sahabat!

Suku Biak dan Tradisi Ararem

Tradisi menghantar mas kawin atau Ararem, merupakan tradisi warisan masyarakat suku Biak, Papua. Bagi suku Biak, tradisi ini menjadi sakral karena diturunkan para leluhur, dan dipertahankan sebagai identitas warga Biak.

Dalam menjalankan tradisi Ararem, para calon suami dan keluarga besarnya akan berjalan kaki menuju kediaman calon istri, dengan melakukan pawai sambil membawa berbagai jenis barang, seperti piring gantung, uang, bendera merah putih, hingga peralatan rumah tangga.

Uniknya, dalam tradisi ini keluarga besar calon pria akan berjalan kaki sambil menari tarian Wor, tarian religius yang diiringi tabuhan tifa, alat musik khas Papua. Mereka menari tanpa henti hingga tiba di rumah keluarga calon istri, dengan membawa piring gantung di atas kepalanya. Enggak kebayang capeknya ya Sahabat?

Di sisi lain, keluarga calon istri akan menyambut keluarga calon suami dengan menyuguhkan berbagai makanan tradisional suku Biak, seperti pinang, keladi tumbuk, papeda, dan ikan kuah kuning sebagai ciri khas masyarakat Papua.

Makna Piring Gantung bagi Masyarakat Suku Biak

Sahabat, piring gantung atau kerap juga disebut keramik Tiongkok, pada awalnya dibawa para pedagang Cina untuk ditukarkan atau barter dengan burung Cendrawasih. Sejak saat itu, piring gantung memiliki fungsi sosial budaya yang tinggi bagi masyarakat Biak.

Piring gantung memberikan makna kehormatan, harga diri, dan tanda penghargaan yang besar bagi masyarakat Biak. Setiap piring gantung memiliki variasi motif, yang umum ditemui adalah motif burung Cendrawasih, tifa, bunga, dan ikan.  Tak heran, harganya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah, tergantung pada motif dan usia pembuatan piring gantung.

Seru banget yah tradisi Ararem, dan betapa berharganya tradisi ini untuk dilestarikan sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia!

Sumber foto banner: Facebook/ Patrick Suruan