06 Maret 2019 | Penulis : Sahabat Lokal

06 Maret 2019 |
Penulis : Sahabat Lokal

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

Tahukah, Sahabat, jika tradisi gigi runcing sebagai tanda kecantikan masih dilakukan oleh beberapa wanita Suku Mentawai? Tradisi ini biasanya diberlakukan ketika wanita mencapai kedewasaan. Ingin tahu apa itu tradisi gigi runcing, sejarah terjadinya, dan bagaimana prosesi ini terjadi? Yuk, simak informasinya di bawah ini!

Apa Itu Tradisi Gigi Runcing?

Sumber : Kumparan.com

 

Apakah kamu pernah membayangkan jika gigimu dikerik? Kebayang, dong, sakit dan ngilunya. Suku Mentawai dari Kepulauan Mentawai memiliki tradisi unik, yaitu tradisi gigi runcing. Tradisi ini merupakan tradisi mengerik atau meruncingkan gigi pada wanita. Untuk mengerik 1 gigi diperlukan waktu kurang lebih 30 menit. Ada 23 gigi wanita suku Mentawai yang harus dikerik. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikannya?

Proses meruncingkan 23 gigi memerlukan waktu yang cukup lama. Prosesi ini juga cukup menyakitkan. Namun, untuk terlihat lebih cantik, wanita di Suku Mentawai harus melakukan tradisi ini. Selain itu, tradisi ini juga menandakan wanita Mentawai yang akan melakukan tradisi kerik gigi sudah dianggap dewasa.  

Bagaimana Sejarah Terjadinya Tradisi Gigi Runcing

Tahukah kamu tradisi gigi runcing pada wanita Suku Mentawai ini sudah ada sejak zaman dahulu? Bayangkan wanita dewasa Suku Mentawai harus mengalami kesakitan saat giginya diruncingkan tanpa dibius. Pasti sangat sakit, ya? Namun, wanita Suku Mentawai ini harus melakukan ritual ini agar diakui sebagai wanita dewasa yang cantik.

Semakin runcing gigi wanita dewasa, semakin cantik dan menawan wanita-wanita tersebut. Jadi, jangan heran jika tradisi kerik gigi sangat dinantikan oleh wanita-wanita di suku Mentawai, Sahabat.

Namun, kini tradisi ini tidak lagi menjadi suatu kewajiban yang dilakukan para wanita di Mentawai. Yang masih melakukan tradisi ini adalah istri orang yang dihormati di kalangan masyarakat Mentawai.

 

Tradisi meruncingkan gigi biasanya dilakukan saat seorang wanita Mentawai akan menikah. Selain sebagai simbol kecantikan, tradisi ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar kecantikan. Wanita Suku Mentawai memiliki kepercayaan turun temurun bahwa dengan meruncingkan gigi, tubuh dan jiwa mereka dapat terjaga keseimbangannya.

Masyarakat Mentawai memercayai bahwa manusia memiliki dua wujud yang tidak akan musnah. Wujud tersebut terdiri dari arwah dan tubuh. Jika mereka tidak menyukai penampilan fisik mereka, mereka akan mendapatkan penyakit. Oleh karena itu, para wanita dewasa Mentawai harus meruncingkan giginya sehingga mereka merasa cantik dan jiwa mereka selalu panjang umur serta bahagia.

Walaupun proses mengerik gigi ini menyakitkan, terdapat pesan yang didapatkan oleh para wanita Mentawai dalam tradisi ini. Setiap kesakitan yang diderita akan membawanya dalam proses pendewasaan dan penemuan jati diri.

Bagaimana Prosesi Adat Tradisi Gigi Runcing?

 

Proses adat tradisi gigi runcing ini nggak bisa dilakukan oleh sembarang orang.  Prosesi ini hanya bisa dilakukan oleh ketua adat Suku Mentawai. Alat yang digunakan adalah sebilah perangkat dari kayu atau besi yang sudah diasah sampai tajam.

Ketika ketua adat mulai prosesi meruncingkan gigi, ketua adat melakukan proses meruncingkan 1 gigi sekitar waktu 30 menit tanpa istirahat. Gigi akan berbentuk runcing mirip seperti gigi taring. Untuk menahan rasa sakit saat proses pengerikan gigi, wanita dari Suku Mentawai biasanya menggigit pisang yang masih mentah dan keras.

Setelah menyelesaikan pengerikan 1 gigi, wanita yang dikerik giginya nggak diberi waktu untuk beristirahat lama. Mereka hanya bisa menghela napas dan melanjutkan lagi prosesi pada gigi selanjutnya.


Nah, bagaimana menurut Sahabat mengenai tradisi gigi runcing yang dilakukan wanita dewasa Suku Mentawai? Apakah kamu mau mencoba melakukan tradisi unik ini? Jangan lupa, ya, share artikel ini agar makin banyak orang mengetahui tradisi kerik gigi dari Suku Mentawai!