20 Mei 2019 | Penulis : Sahabat Lokal

20 Mei 2019 |
Penulis : Sahabat Lokal

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

tradisi ketika masuk bulan ke tujuh dalam masa kehamilan. Masyarakat Jawa masih banyak yang melakukan tradisi ini karena makna di dalamnya begitu dalam.

Mitoni merupakan sebuah tradisi yang bertujuan untuk memohon keselamatan, ditujukan kepada calon ibu dan bayinya. Mitoni sendiri berasal dari kata pitu yang memiliki arti tujuh. Namun, bisa juga diartikan sebagai pitulungan yang artinya pertolongan. Selain itu, acara ini juga bertujuan agar proses bersalin berjalan dengan lancar dengan diiringi doa-doa yang dipanjatkan untuk si bayi kelak.

Acara ini dilakukan dengan berbagai prosesi adat di mana setiap proses ini memiliki filosofi dan maknanya tersendiri. Nah, berikut ini adalah proses mitoni tersebut, Sahabat!

Dimulai Dengan Prosesi Siraman

Acara ini dilakukan untuk penyucian Sii Ibu dan Si Jabang Bayi. Seperti namanya, prosesi ini menggunakan air yang diambil dari tujuh sumber yang berbeda. Siraman dilakukan oleh tujuh bapak dan ibu yang diteladani dari calon ibu dan calon ayah. Namun yang lebih diutamakan adalah kakek dan nenek dari Si Jabang Bayi.

Siraman dilakukan dengan menyiram calon ibu dengan gayung batok kelapa. Dimulai dari saudara tertua di keluarga kemudian berlanjut pada yang lebih muda. Biasanya acara Siraman dilakukan di sebuah setting bernama krobongan atau bisa juga di kamar mandi.

sumber : flickr.com

Acara Brojolan Agar Bayi Lahir Dengan Selamat

Selanjutkan dilakukan dengan acara brojolan yang biasanya dipimpin oleh nenek Si Jabang Bayi. Calon ibu akan memakai kain jarik yang disertai dengan potongan tali bernama letrek. Kemudian Si Calon Nenek memasukkan teropong atau telur ayam dari atas jarik hingga jatuh ke bawah. Acara dilanjutkan dengan dengan pemotongan tali letrek oleh calon ayah sebagai simbol untuk membukakan jalan Si Jabang Bayi agar lahir dengan selamat.

sumber : flickr.com

Pembagian Takir Pontang

Takir pontang adalah tempat makanan yang terbuat dari daun pohon pisang dan janur. Kemudian dibentuk menyerupai kapal. Hal ini memiliki arti bahwa dalam mengarungi kehidupan harus menata pikiran karena perjalanan hidup akan selalu terpontang-panting mengikuti gelombang kehidupan. Hidangan kemudian diletakkan pada takir pontang, lalu diberikan sebagai suguhan atau ucapan terimakasih kepada sesepuh yang menghadiri acara mitoni ini.

Ditutup dengan Berjualan Dawet Dan Rujak

Mitoni kemudian ditutup dengan prosesi jualan dawet dan rujak. Uniknya nih Sahabat, tamu yang datang pada acara tersebut akan dibagikan kreweng atau kepingan batok kelapa untuk membeli dawet tersebut. Prosesi ini merupakan sebuah harapan agar si anak dapat mendapat banyak rejeki dan juga bagi kedua orang tuanya kelak.

sumber : flickr.com

Acara mitoni atau tujuh bulanan ini selesai sebelum matahari terbenam dan diharapkan agar anak hadir di dunia dengan dipenuhi keselamatan, rezeki dan pertolongan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Bagaimana Sahabat, tertarik untuk melihat langsung prosesi mitoni ini? Sahabat bisa terus belajar dari banyak budaya yang ada di Indonesia yang unik dan bermakna. Jadi terus lestarikan budaya Indonesia, ya!