10 Juni 2019 | Penulis : Sahabat Lokal

10 Juni 2019 |
Penulis : Sahabat Lokal

Bagikan Artikel

Bagikan Artikel

Sahabat, tahukah bahwa di Papua ada tradisi unik yaitu tradisi mengunyah pinang. Tradisi ini ada di seluruh kelompok etnis Papua. Baik etnis yang mendiami pesisir atau pedalaman maupun pegunungan. Di daerah pegunungan seperti Jayawijaya dan Paniai, masyarakatnya mengenal tradisi mengunyah pinang setelah ada kontak dengan etnis-etnis lain.

Apa itu tradisi mengunyah pinang?

https://lh4.googleusercontent.com/yzz8PNkjctCTulC2aEczNFPdsEi8n2A1DQ0A6sYouNrViuYen9Emyk9vJLLM5FMDH8fu9NMr8F2ThK_Yw8Sp7jkaA8aUqRgy1UGnJQfxMea4i2tqlyY5f27jWW1WUXIdCNznvioPSumber Gambar : indonesiakaya.com

Tradisi mengunyah pinang pada masyarakat Papua diperkirakan telah berlangsung sejak abad keempat Masehi. Pinang dikenal hampir di semua kelompok etnis di Papua, mulai yang mendiami kawasan pesisir pantai selatan, bahkan sampai ke daerah perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini.

Buah pinang yang dikonsumsi bersama perasan tembakau, kayu manis dan kapur sirih yang digulung dalam daun sirih dipercaya berkhasiat menjaga kebugaran tubuh dan menstimulasi serta memicu stamina. Menurut para pekerja bahwa tradisi mengunyah pinang  setara dengan menenggak 6 gelas kopi.Bagi orang Papua, tradisi mengunyah pinang hingga kini masih dipertahankan dan dipraktikkan.

Mulai dari orang tua sampai anak-anak, dari orang biasa sampai pejabat, laki-laki maupun perempuan, dari aktivitas keseharian sampai upacara adat. Bagi orang Papua, buah pinang dipercaya bermanfaat bagi pencernaan dan sebagai bahan penguat gigi, sebagai pengobat beragam penyakit (seperti luka kulit, kudis, koreng, rabun mata, bisul, cacingan, penghilang bau mulut), dan sarinya menjadikan tubuh bersih dari dalam.

Tradisi Mengunyah Pinang, Identitas Yang Melekat di Papua

https://lh6.googleusercontent.com/HHByEjIeZBYZ_Y8xkWrhTiZYmiHG4Ae4j4XpLRWidvic0SPlk3-J33aTL6echQsBjrFh5t124uWsgAJ4lj32MCNqzXPwIv8eIq6wWonCCL-6b6ADLKDLIG_VB6uu9gg_FasAx5u4Sumber gambar : indonesiakaya.com

Dalam setiap pertemuan maupun upacara adat orang Papua, buah pinang selalu nggak ketinggalan dihadirkan dan menjadi “barang wajib” yang berfungsi sebagai sarana hubungan sosial atau sarana bersosialisasi. Buah pinang sebagai makanan kunyah selalu mengawali atau menjadi “pembuka” dalam interaksi antara orang yang satu dengan yang lain atau pun antara kelompok satu dengan kelompok lainnya.

Bagi perantau pemula (yang bukan orang Papua), tradisi mengunyah pinang bersama orang asli Papua sebagai warga setempat yang dikunjungi menunjukkan adanya keinginan untuk menjadi bagian dari saudara mereka (orang Papua).

Namun apakah Sahabat tahu bahwa dalam setiap kebudayaan masyarakat, sebuah tradisi atau kebiasaan tidaklah berdiri sendiri, akan tetapi itu menjadi satu rangkaian dengan sistem pengetahuan dan pola-pola tindakan dari sekelompok masyarakat pendukungnya.

Sebagaimana halnya pada masyarakat Papua terkait dengan tradisi mengunyah pinang. Buah pinang merupakan bagian dari budaya material, yang digunakan dengan beragam fungsi yang terwujud dalam pola-pola perilaku, berdasarkan pengetahuan lokal orang Papua dan sebagai sebuah kebiasaan yang diterima dan menyatu dalam kehidupan orang Papua,

Makanya tradisi mengunyah pinang nggak sekedar bagian dari kebiasaan yang telah mengakar tetapi juga telah menjadi sebuah identitas budaya yang melekat pada orang Papua.

Persoalan Kemasyarakatan Tradisi Mengunyah Pinanghttps://lh3.googleusercontent.com/clmZE1TNTAiBiaCpo-SW7yWnLPu3mEZOuqKo-AIDvK6h6nQjuVWvHu4p_tgIMjqt0i7W4AMzRgqBLGkeBw2EGabuwel_fU7Cs69smuUs-MWvnXy509U7ydaLpIyk5JMhH_fLYqZs

Sumber gambar : indonesiakaya.com

Bahkan nama buah ini pun dipakai untuk menghimpun orang-orang Papua yang hendak berbagi cerita atau pengalaman hidup (para-para pinang).  Para-para pinang sama dengan warung kopi di daerah lain yang kerap menjadi tempat berkumpul dan berbagi cerita bahkan persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan. Hadirnya kedai pinang bagi orang Papua sering menjadi tempat pertemuan mereka untuk sharing pengalaman, obrolan santai, dll.

Nah, tradisi mengunyah pinang ini menimbulkan persoalan lingkungan karena pengunyahan pinang menyebabkan orang sering membuang ampas dan meludah tanpa mempedulikan lingkungan sekitarnya, seperti di jalanan, sekolah, kantor, rumah sakit, pertokoan, dll.  

Tradisi mengunyah pinang orang Papua sangat memasyarakat di Kota Jayapura. Hal tersebut dikarenakan oleh adanya dasar pemikiran dan pemahaman-pemahaman mereka bahwa mengunyah pinang merupakan identitas orang Papua.

Akan tetapi, bagi yang nggak mengunyah pinang terdapat anggapan-anggapan yang aneh atau men stigmatisasi perilaku atau tradisi mengunyah pinang. Dengan kata lain terjadi pro dan kontra (antara orang Papua penikmat pinang dengan orang yang nggak mengunyah pinang). Wah unik sekali ya Sahabat.