Berpacu dengan Joki Cilik Pacuan Kuda Tradisional di Takengon

Takengon adalah ibukota Kabupaten Aceh Tengah yang terletak di sisi Danau Lut Tawar, Kec. Lut Tawar, di tengah-tengah wilayah provinsi Aceh. Kota ini berada di daerah dataran tinggi sekitar 1.200 m di atas permukaan laut yang memiliki hawa sejuk.

Masyarakat Takengon memiliki beragam suku dan etnis. Mayoritas penduduk daerah di sini merupakan suku Aceh, namun ada juga suku-suku lainnya seperti suku Jawa, suku Tionghoa dan suku Minangkabau.

Sumber : Foto Kontestan

Nama Takengon sendiri diambil dari bahasa Aceh “tikungan” yang berarti kelokan. Hal tersebut dikarenakan untuk menuju ke kota kecil ini perlu menyusuri tanjakan perbukitan dan melewati lereng-lereng gunung yang memiliki kelokan terjal dan curam dengan dikelilingi pepohonan lebat di sepanjang jalan. Untuk bisa menuju ke daerah ini bisa melalui jalan Lintas Timur Sumatera eks Jalan KKA Aceh Utara atau melewati Kab. Bireuen dan harus melintasi 2 gunung aktif di Kabupaten Bener Meriah.

Seni dan Budaya Tradisional kota Takengon

Nah Sahabat, salah satu kegiatan paling menarik kota Takengon yang mampu menyedot perhatian masyarakat lokal maupun sejumlah wisatawan yakni Pacuan Kuda di Pegasing, Aceh Tengah. Kegiatan ini biasanya diselenggarakan pada pertengahan bulan Agustus guna menyambut dan memeriahkan hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan di saat menyambut tahun baru di Desa Jadirejo, Bukit Bener Meriah.

Tak jarang kegiatan ini juga dilakukan oleh joki-joki cilik dengan derap langkah kaki kuda berpacu disertai debu-debu berterbangan yang akan menambah kemeriahan dalam acara tersebut. Kegiatan ini telah berhasil diabadikan langsung oleh akun Instagram @ninja_hatori_moto sebagai salah satu peserta Kompetisi Foto dan Video Sahabat Lokal Adira Finance.

Dalam kegiatan pacuan kuda tersebut, terdengar sorak-sorai para penonton yang tentunya akan menambah semangat para joki cilik untuk memacu kuda-kuda yang mereka tunggangi. Pacuan kuda ini juga biasa diadakan oleh suku Gayo yang mendiami Kabupaten Aceh, Bener Meriah dan Gayo Lues. Tiga kabupaten ini juga memperoleh julukan ‘Tiga Bersaudara’ dikarenakan memiliki kesamaan geografis dan kebudayaan.

Tradisi Pacuan Kuda Tradisional

Tradisi pacuan kuda ini telah menjadi tradisi sejak dulu bahkan sebelum Belanda berhasil menginjakkan kakinya di tanah penghasil kopi ini. Menurut penjelasan salah satu tokoh adat setempat, tujuan penyelenggaraan Pacuan Kuda oleh penduduk suku Gayo yakni guna menyambut atau merayakan masa panen (bulan Agustus dan September).

Dulunya kegiatan Pacuan Kuda ini diselenggarakan di pinggir Danau Laut Tawar, yang menjadi danau terbesar di Provinsi Aceh dengan keindahannya. Pacuan kuda tersebut dilakukan ‘seadanya’ tanpa adanya fasilitas khusus seperti lintasan pacuan kuda dan perlengkapan bagi joki ataupun kuda.

Sumber : Flickr

Perubahan pun terjadi sewaktu Belanda menginjakkan kaki di tanah Gayo sekitar awal tahun 1900-an, atraksi pacuan kuda menjadi lebih modern. Kala itu Belanda memanfaatkan atraksi pacuan kuda ini sebagai momentum perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina. Sehingga yang semula pacuan berada di pinggir Danau dipindahkan ke lintasan pacuan kuda, sekarang ini dibangun di pusat kota Takengon.

Seiring dengan berjalannya waktu atas perebutan kemerdekaan bangsa, Indonesia pun giliran menyelenggarakan atraksi pacuan kuda sebagai ajang perlombaan. Uniknya, sejumlah kuda yang digunakan dalam perlombaan ini adalah kuda peranakan Australia-Gayo yang sering disebut Astaga.

Para Joki Beratraksi di Lintasan Pacuan

Penyelenggaraan pacuan kuda diselenggarakan secara tradisional sehingga tidak perlu memiliki perlengkapan khusus ataupun tidak perlu memiliki kriteria khusus. Namun, biasanya usia joki yang mengikuti ajang pacuan kuda ini berkisar antara 15-25 tahun dengan usia kuda sekitar 1-5 tahun. Selama kegiatan ini berlangsung, penonton bisa dengan leluasa masuk ke area perlombaan dan menyemangati kuda favoritnya.

Pertandingan pacuan kuda ini biasanya berlangsung satu putaran saja untuk kuda berusia lima tahun. Sedangkan pada golongan kuda tua atau berusia lima tahun keatas harus melakukan dua kali putaran. Pertandingan ini tidak pernah sepi peminatnya, terakhir pertengahan Januari 2017 ada 325 kuda yang bertanding di Lapangan Sengeda Bener Meriah.

Itulah salah satu tradisi kebudayaan Nusantara, sebuah pesta rakyat yang dirayakan dengan suka ria oleh masyarakat dan sejumlah wisatawan. Nah, apakah Sahabat tertarik untuk menyaksikannya secara langsung?


Keterangan
Lokasi : aceh tengah, aceh
Jelajah ACEH

23-07-2017 1:12 PM
Mie Razali

03-12-2017 10:41 PM
NOZY JUICE

23-07-2017 1:24 PM
Pulau Batee

23-07-2017 1:09 PM
Freddies Santai Sumurtiga