Ketahui Yuk Keunikan dari Ikon Kota Bukittinggi, Jam Gadang

Bagi Sahabat yang pernah mengunjungi Kota Bukittinggi, tentu sudah tidak asing lagi dengan Jam Gadang bukan. Ya, Jam Gadang merupakan sebuah jam yang sering dikatakan sebagai ikon dari kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Jam Gadang kerap menjadi perburuan wisatawan asing dan lokal untuk diabadikan.

 

Seperti contoh yang telah diabadikan oleh akun instagram bernama @batasgalaksi. Foto ini berhasil masuk sebagai finalis Kompetisi Foto dan Video Sahabat Lokal Adira Finance. Untuk membuat Sahabat lebih tertarik tentang Jam Gadang, yuk simak beberapa keunikan dari bangunan terkenal ini:

Jam Gadang adalah hadiah dari Ratu Belanda

 

Pembangunan Jam Gadang berlangsung sekitar tahun 1826 pada saat masa penjajahan Belanda di Indonesia. Lalu, dipercaya bahwa jam ini dibangun sebagai hadiah dari Ratu Belanda untuk countroleur atau sekretaris Kota Bukittinggi pada saat itu, Rook Maker.  Desainnya dirancang oleh arsitek bernama Yazid Rajo Mangkuto dan diperkirakan pembangunannya menghabiskan dana sekitar 3000 gulden (uang pada masa penjajahan Belanda).  

Bahan Bangunan dan Dimensi Jam Gadang

Hal unik dari Jam Gadang ada di campuran bahan bangunannya. Jam Gadang dibangun tanpa menggunakan penyangga besi ataupun semen seperti pada umumnya. Campuran dari Jam Gadang berisikan pasir putih dan kapur. Lalu untuk perekatnya, arsitek dari Jam Gadang menggunakan putih telur karena dipercaya sebagai bahan perekat yang sangat kuat.

 

Jam Gadang memiliki diameter sebesar 80 meter dengan 4 jam di setiap sisinya. Untuk bagian dasarnya, Jam Gadang memiliki luas sebesar 13 x 4 meter dan tinggi dari jam ini mencapai 26 meter. Jam Gadang kerap disandingkan dengan menara Big Ben di Inggris karena bentuknya yang mirip. Walaupun Jam Gadang memiliki dimensi yang lebih kecil daripada Big Ben.

Angka 4 di Jam Gadang

sumber : flickr

 

Apakah Sahabat pernah memperhatikan penulisan angka 4 di Jam Gadang? Penulisan angka di jam ini menggunakan angka romawi yang berupa I,II, III dan seterusnya. Namun, berbeda untuk angka 4. Secara umum diketahui bahwa penulisan angka 4 dalam huruf romawi adalah IV. Namun di jam ini, angka 4 ditulis dengan cara IIII. Ada beberapa cerita yang dipercaya sebagai alasannya, salah satu yang paling terkenal adalah penulisan angka 4 secara IIII merupakan bentuk penghormatan dari 4 korban tumbal yang meninggal saat pembangunan jam ini.

Kerap mengalami pergantian ornamen puncak

Sejak didirikan, Jam Gadang mengalami beberapa pergantian ornamen puncaknya. Saat pertama kali, puncak dari jam ini memiliki bentuk bulat dengan patung ayam jantan di atasnya dan menghadap ke arah timur. Namun saat dalam penjajahan Jepang, puncak jam ini diubah menjadi bentuk pagoda. Lalu setelah Indonesia merdeka hingga sekarang, puncaknya diubah menjadi bentuk rumah adat Minangkabau.

Pesona Jam Gadang

Sebagai suatu ikon dari kota Bukittinggi, Jam Gadang tentu menjadi buruan dari wisatawan asing maupun lokal. Oleh karena itu, terdapat banyak acara atau momen yang diadakan di wilayah Jam Gadang. Seperti acara kebudayaan, acara pergantian tahun, takbiran, festival kerap diadakan di wilayah Jam Gadang. Seperti yang diabadikan oleh finalis Kompetisi Foto dan Video Sahabat Lokal ini, terdapat barisan delman yang siap mengantar wisatawan untuk mengelilingi kota Bukittinggi.

 

Bagaimana Sahabat? Jam Gadang tentu tidak kalah bukan dengan Bigben di Inggris. Ayo, kunjungi kota Bukittinggi dan abadikan momen Sahabat berkunjung ke Jam Gadang.


Keterangan
Lokasi : bukittinggi, sumatera barat
Jelajah SUMATERA BARAT

06-08-2017 9:51 AM
Bolu Batik

06-08-2017 9:34 AM
Taplau (Pantai Padang)

06-08-2017 9:30 AM
Soto Garuda

06-08-2017 9:44 AM
Goa Jepang Bukit tinggi