Menilik Bali yang Masih Asli di Desa Tenganan

Jika selama ini kamu masih berpikir bahwa Bali hanya memiliki wisata pantai dan kelab malam saja, maka kamu salah besar. Bali adalah kombinasi dari keindahan alam dan kebudayaan luhur yang selalu dijaga oleh penduduknya. Tak percaya? Foto karya @mad.ali_ untuk Kompetisi Foto dan Video Sahabat Lokal Adira Finance ini akan menjawab keraguanmu.

 

Foto ini diambil di Desa Tenganan, sebuah desa yang terkenal karena masih menjaga keaslian budayanya. Desa Tenganan merupakan desa Bali Aga, yang memiliki arti desa yang masih menjaga aturan tradisional sesuai adat turun temurun yang diwariskan oleh nenek moyang. Mengagumkan, kan?

Keunikan Desa Tenganan

Meski listrik, teknologi dan sarana prasarana telah memasuki desa ini, namun keaslian desa ini tak pernah luntur, lho. Warga Desa Tenganan tetap menjaga rumah-rumah dan adat istiadat mereka tetap seperti aslinya. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat desa ini memiliki seperangkat aturan desa sendiri yang telah ditulis sejak abad ke-11 silam. Peraturan ini juga telah diperbarui pada tahun 1842 silam.

 

Di dalam desa ini Sahabat bisa menemukan tiga balai desa dan deretan rumah yang identik satu dengan lainnya. Tak hanya itu, warga desa juga menjaga keaslian desa ini dengan perkawinan sesama warga desa. Hal tersebut membuat Desa Tenganan menjadi semakin eksotis dan memiliki daya tarik wisata tersendiri.

 

Salah satu keunikan dari desa ini adalah desa ini tidak turut merayakan hari raya Nyepi, Galungan dan Kuningan. Hal ini dikarenakan statusnya sebagai desa Bali Aga sehingga tidak mendapatkan pengaruh dari Kerajaan Majapahit. Selama Nyepi, warga Desa Tenganan tetap melakukan aktivitas seperti biasa, lho.

Keseharian Warga Desa Tenganan

Untuk bertahan hidup, warga Desa Tenganan banyak yang berprofesi sebagai petani, peternak hingga pengrajin. Di desa ini kita bisa dengan mudah menemukan sawah hingga kerbau yang bebas berkeliaran di pekarangan rumah, lho.

Sumber Flickr.com

 

Kerajinan yang dihasilkan oleh desa ini sangat beragam, mulai dari anyaman bambu, ukiran, lukisan yang diukir di atas daun lontar yang dibakar hingga yang paling terkenal adalah kain geringsing. Kain ini sepenuhnya dibuat dengan tangan oleh para pengrajin dan hanya diproduksi di Desa Tenganan saja, Sahabat.

 

Selain itu, para warga Desa Tenganan juga masih mempertahankan sistem barter, lho. Namun, hal ini hanya dilakukan oleh antar warga saja, ya. Unik, kan?

Tradisi Asli Desa Tenganan

Selain kain geringsing, Desa Tenganan juga masih memiliki beberapa tradisi unik yang hanya ada di desa ini saja, lho. Salah satunya yang paling terkenal adalah perang pandan. Jika Sahabat pernah melihat gambar dua orang tengah bertarung dengan menggenggam daun pandan dan bertamengkan rotan maka di sinilah tempatnya, Sahabat!

 

Sumber : Flickr.com

 

Perang Pandan sendiri dilakukan sebagai wujud penghormatan kepada Dewa Indra. Tradisi ini hanya dilakukan pada bulan kelima kalender Bali atau sekitar bulan Juni pada kalender Masehi, Sahabat. Hal yang menarik dari perang ini adalah tidak adanya rasa dendam dari para peserta yang bertarung dalam peperangan ini, yang ada hanya suka cita, Sahabat.

 

Tradisi berikutnya yang cukup menarik adalah tradisi Ngayun Damar. Tradisi ini dilakukan setelah tradisi Perang Pandan digelar. Ngayun Damar adalah tradisi di mana sebuah ayunan setinggi 5 meter akan dimainkan oleh delapan gadis belia yang disebut sebagai Truni Daha.

 

Para Truni Daha ini harus naik ke atas ayunan dan menempati posisi masing-masing. Di sisi kanan dan kiri ada dua orang pemuda yang siap mengayunkan ayunan. Saat ayunan diayunkan kita bisa melihat wajah ceria para Truni Daha, namun tak jarang pula kita akan melihat wajah tegang mereka karena tinggi ayunan ini.

 

Nah, itu tadi beberapa keunikan yang dimiliki oleh desa tradisional ini, Sahabat. Apakah kamu tertarik untuk merasakan keaslian Bali di Desa Tenganan?


Keterangan
Lokasi : tabanan, bali
Jelajah BALI

03-12-2017 10:03 PM
Patrick Topping

22-09-2017 7:40 AM
Nasi Campur Ayam Bali

22-09-2017 7:49 AM
Tukad Unda Klungkung

04-12-2018 10:27 AM
Hello Bali