Ngaben, Bentuk Keikhlasan Keluarga Bagi Yang Telah Tiada

Sahabat, Indonesia kaya akan keragaman suku dan budaya. Berbagai ritual adat dengan maksud dan tujuan tertentu banyak kita jumpai di penjuru nusantara ini. Mulai dari wujud ucapan syukur, penghormatan kepada leluhur, hingga upacara pemakaman dengan berbagai keunikannya.

 

Bali terkenal kental akan budaya dan tradisinya. Ada sebuah prosesi pemakaman adat yang begitu terkenal dan sudah mengakar kuat dalam keyakinan warga Hindu Bali, yakni Ngaben. Jepretan lensa kamera akun @hendyfight berhasil mengabadikan momen-momen sakral prosesi Ngaben ini untuk Kompetisi Foto dan Video Sahabat Lokal Adira Finance.

Nah, penasaran dengan tata cara prosesi ngaben atau bahkan belum mengetahui apa itu ngaben? Simak informasinya di bawah ini, Sahabat!


Apa itu Ngaben?

 

 

Upacara Ngaben sendiri sebenarnya adalah prosesi pembakaran mayat atau kremasi bagi penganut Hindu Bali. Ritual pembakaran mayat tersebut ditujukan sebagai simbol untuk menyucikan roh orang yang telah meninggal.

 

Secara harfiah, ada tiga pendapat arti dari kata Ngaben tersebut. Ada yang percaya bahwa ngaben berasal dari kata beya yang artinya bekal. Kemudian ada yang mengartikan dari kata ngabu atau menjadi abu. Ada pula yang berpendapat ngaben berarti penyucian dengan menggunakan api, menurut keyakinan agama Hindu.

 

Prosesi ini termasuk ke dalam Pitra Yadnya, atau upacara yang ditujukan untuk penghormatan roh leluhur, Sahabat.

 

Uniknya, selama upacara ngaben ini kita tidak akan menemukan isak tangis, justru dilakukan dengan penuh semarak. Sebab ada keyakinan bahwa kita dilarang untuk menangisi kematian seseorang karena dapat menghambat perjalanan arwah menuju ke alam baka.



Rangkaian Prosesi Upacara Ngaben

 

Sumber : President.post



Upacara Ngaben terdiri dari banyak tahap sebelum ke pokok utamanya yaitu proses pembakaran mayat. Berikut ini rangkaian prosesinya.

Ngulapin

Upacara ini dilakukan apabila seseorang meninggal di luar rumahnya, semisal di rumah sakit atau sebagainya. Dimaksudkan untuk memanggil Sang Atma, upacara ini dapat berbeda-beda di setiap daerah tergantung tradisi setempat.

 

Nyiramin atau Ngemandusin

Upacara ini biasanya dilakukan di rumah. Pada saat proses ini biasanya disertai dengan penambahan simbol-simbol seperti bunga melati di lubang hidung atau daun intaran di alis serta perlengkapan lainnya. Hal ini dimaksudkan agar apabila roh mengalami reinkarnasi, dianugerahi anggota badan yang lengkap.

Ngajum Kajang

Selembar kertas putih akan ditulisi oleh tetua adat yang kemudian akan ditekan sebanyak tiga kali oleh keluarga, dengan maksud agar memantapkan hati keluarga yang ditinggal. Sehingga, roh dapat segera menuju ke tempat seharusnya.

Ngaskara

Upacara ini memiliki makna menyucikan roh yang telah meninggal, dengan tujuan agar roh dapat bersatu dengan Sang Hyang Widhi Wasa dan menjadi pembimbing bagi mereka yang masih di dunia.

Mameras

Upacara ini dilakukan apabila yang meninggal sudah memiliki cucu, hal ini dikarenakan sang cucu lah yang akan menuntun mendiang melalui doa-doa.

Papegatan

Upacara ini dimaksudkan untuk memutuskan hubungan duniawi dan keluarga agar perjalanan roh tidak terhambat menuju ke tempatnya. Dengan ini pihak keluarga berarti telah ikhlas melepas kepergian mendiang.

Pakiriman Ngutang

Upacara ini adalah membawa jenazah menuju pekuburan setempat dengan menggunakan bade atau menara pengusung jenazah. Prosesi ini di iringi dengan suara baleganjur ataupun angklung. Pada saat perjalanan, jenazah akan diputar tiga kali melawan jarum jam dengan maksud mengembalikan Panca Maha Bhuta ke tempatnya masing-masing.

Ngeseng

Upacara pembakaran jenazah yang telah dibaringkan di tempat yang disediakan disertai sesaji dan banten. Kemudian diperciki oleh pendeta dengan Tirta Pangentas yang bertindak sebagai api abstrak diiringi dengan Puja Mantra. Barulah jenazah dibakar hingga hangus. Tulang-tulang hasil pembakaran digilas dan dirangkai dalam buah kelapa gading yang telah dikeluarkan airnya.

Nganyud

Ini adalah proses menghanyutkan abu di sungai atau laut yang memiliki makna sebagai penghanyut segala kekotoran yang masih tertinggal pada roh mendiang.

Makelud

Upacara ini dilaksanakan 12 hari setelah prosesi pembakaran jenazah. Makelud adalah membersihkan dan menyucikan kembali lingkungan keluarga akibat kesedihan yang dialami keluarga setelah ditinggalkan.


Nah, sahabat sudah mengerti bukan perihal upacara adat Ngaben dari Bali? Indonesia memang memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam. Tugas kita sebagai generasi muda untuk melestarikannya.


Keterangan
Lokasi : gianyar, bali
Jelajah BALI

03-12-2017 10:52 PM
Rumah Rifdah Craft & Decoupage

07-03-2018 5:34 AM
El Kabron Restaurant

22-09-2017 7:45 AM
Hanging Gardens Ubud

01-02-2018 4:26 PM
Bali Beach Run 2017

22-09-2017 7:40 AM
Nasi Campur Ayam Bali