Menikmati Musik Jazz Dengan Alunan Syahdu di Ngayogjazz

Ngayogjazz memang menjadi gelaran musik tahunan yang selalu dinanti banyak orang. Nggak cuma musiknya saja yang dikemas secara apik, namun dari segi kolaborasi budaya setempat yang juga nggak kalah menarik. Berbeda dengan gelaran musik lain yang memilih lahan perkotaan atau bahkan gedung untuk pertunjukannya, Ngayogjazz selalu memilih tempat di sudut pedesaan.

Seperti pada gelaran ke-12 Ngayogjazz yang diselenggarakan di Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Bantul. Jadi, alunan syahdu dari musik jazz tersebut nggak melulu jadi monopoli orang-orang kota saja, lho. Siapa pun bisa datang dan menikmati suasana santai dengan alunan dari musik Ngayogjazz ini.

Sejarah Dimulainya Ngayogjazz

Di Ngayogjazz, pendengar seakan melebur dan berinteraksi langsung dengan tradisi masyarakat pedesaan. Hal ini bisa dilihat dari tatanan sederhana dan panggung terbuka dengan suasana pedesaan. Sejak tahun 2007, pertama kali Ngayogjazz digelar terbukti bisa merayu banyak orang untuk datang ke sana.

Sebelum adanya Ngayogjazz ini, dulu dikenal adanya komunitas jazz pertama tahun 2002, yaitu Jogja Jazz Club (JCC) yang diawali oleh personel Tuti n friends dan Wartajazz. Komunitas ini memang sebagai kelanjutan dari Festival Jazz Gayeng yang diadakan tahun 2001 silam. Kemudian permusikan jazz di Jogja mengalami perubahan arah ditandai dengan munculnya Ngayogjazz pertama yang digelar di Padepokan Seni Bagong Kussudiarjo.

sumber : flickr

Alunan Musik Jazz untuk Semua Orang

Perubahan arah menjadi landasan Ngayogjazz dikemas dengan unsur lokal. Berbagai unsur lokal dapat dilihat mulai dari Ngayogjazz 2007 yang memadukan eksplorasi pertunjukan seni dan kolaborasi tradisi dengan musik jazz. Hal ini juga digunakan untuk melawan mindset bahwa jazz dianggap sebagai musik elite dan hanya orang berkelas yang bisa menikmatinya.

Alasan memilih sudut pedesaan karena dianggap sebagai awal mula peradaban manusia oleh Djaduk, pendiri Ngayogjazz. Orang-orang kota bisa belajar lebih banyak tentang kearifan budaya dan seni tradisi yang ada di masyarakat desa. Orang-orang yang datang pun menikmati alunan sembari makan jagung bakar, cilok, batagor dan lainnya.

Tentu gelaran musik ini sungguh spesial, Sahabat. Nggak hanya dimeriahkan oleh seniman musik dari Indonesia saja, namun juga dari mancanegara, seperti Perancis, Belanda dan Spanyol. Tentu hal ini berhasil membius banyak orang yang datang ke Ngayogjazz ini.

sumber : flickr

Biasanya, Ngayogjazz memiliki tema tersendiri dalam setiap gelarannya. Seperti pada tahun 2018 lalu, Ngayogjazz mengambil tema “Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara” yang memiliki arti bahwa negara punya tatanan dan jazz punya cara sendiri untuk menghormatinya.

Djaduk mengatakan bahwa tahun tersebut merupakan tahun politik di mana banyak orang masih tegang dengan pendapat politiknya. Di dalam Ngayogjazz tersebut diharapkan orang-orang dapat melebur dan berbaur bersama dalam alunan jazz yang syahdu, mengesankan bukan, Sahabat?

Dalam setiap perhelatan dari Ngayogjazz ini, orang-orang diajak untuk kembali mengerti tentang nilai etika sopan santun. Balutan suasana desa yang masih asri ditambah dengan tatanan yang sederhana membuat Ngayogjazz selalu dinanti setiap tahunnya.

 

Selain Sahabat bisa bersenandung dengan iringan musik jazz, Sahabat juga bisa belajar banyak tentang kearifan lokal dari masyarakat sekitar. Jadi siapkan cuti untuk datang ke Ngayogjazz tahun ini, ya!


Keterangan
Lokasi : yogyakarta, di yogyakarta