Ikipalin, Cara Suku Dani Meluapkan Rasa Sedih dengan Memotong Jari

Hai, Sahabat. Bagaimana cara kamu melampiaskan kesedihanmu karena kehilangan seseorang yang berarti buat kamu? Sebagian besar dari kalian mungkin akan menjawab, dengan menangis, tidur, jalan-jalan, curhat, atau mogok makan. Cara-cara tersebut belum ada apa-apanya jika dibanding dengan cara wanita Suku Dani meluapkan kesedihan lewat tradisi Ikipalin.

Sahabat, penasaran dengan tradisi Ikipalin yang jadi cara wanita Suku Dani meluapkan rasa sedih? Yuk, simak informasi lengkapnya dalam artikel ini!

Tradisi Ikipalin, Cara Wanita Suku Dani Meluapkan Kesedihan

 

 

Suku Dani merupakan suku yang mendiami pedalaman Papua, tepatnya di Lembah Baliem. Suku yang dipimpin oleh seorang kepala suku besar (Ap Kain) ini menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam dan beternak babi.

Suku Dani memiliki sebuah tradisi yang disebut dengan Ikipalin. Ikipalin adalah tradisi memotong jari sebagai simbol kesedihan saat kehilangan salah satu anggota keluarga lantaran meninggal dunia. Tradisi ini juga bertujuan untuk mencegah malapetaka yang telah merenggut nyawa salah satu anggota keluarga, terulang kembali.

Adapun pemotongan jari tangan ini dilakukan oleh wanita yang kehilangan suami, ayah, ibu, anak, atau adik. Meski demikian, bukan berarti para lelaki Suku Dani nggak melakukan apa-apa ketika sedih karena kehilangan, lho. Para pria Suku Dani melambangkan kesedihan mereka dengan mengiris kulit telinga dengan bilah bambu yang tajam. Selain itu, mereka juga mandi lumpur, sebagai tanda bahwa yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah.

Ngeri, ya, tradisinya? Namun, tradisi potong jari maupun mengiris kulit telinga ini berkaitan dengan pedoman hidup Suku Dani, Sahabat. Mereka meyakini bahwa kebersamaan merupakan hal yang penting dan semua anggota keluarga akan tetap bersama dalam suka maupun duka. “Wene opakima dapulik welaikarek mekehasik” demikian Suku Dani menyebutkan tentang filosofi kebersamaan tersebut dalam bahasa asli.

Mengapa harus memotong jari? Karena bagi Suku Dani, jari merupakan simbol dari kebersamaan, kerukunan, dan kesatuan. Sehingga kematian salah satu anggota keluarga sama seperti kehilangan satu jari. Ketika kamu kehilangan satu jari, maka kekuatanmu akan berkurang dan kerja pun jadi tidak maksimal, bukan?

Proses Memotong Jari pada Tradisi Ikipalin

 

Alat yang digunakan untuk memotong jari pada tradisi Ikipalin dapat berupa pisau, kapak, parang atau benda tajam lainnya. Pertama, jari yang akan dipotong diikat dengan seutas tali agar aliran darahnya berhenti. Ketika jaringan pada ruas jari tersebut telah mati, maka proses pemotongan jari dapat segera dilakukan.

Cara lain yang lebih ekstrem dalam memotong jari adalah dengan menggigit jari hingga putus. Terdengar seperti tidak masuk akal ya, Sahabat? Namun, hal tersebut memang benar adanya. Bagi Suku Dani, menangis saja nggak cukup menggambarkan dalamnya kesedihan yang menyayat hati, yang mereka rasakan.

Ikipalin, Tradisi Ekstrem yang Mulai Ditinggalkan

Sumber : Flickr

 

Satu lagi fakta yang perlu kamu ketahui, ternyata tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh wanita dewasa, lho. Bahkan, bayi perempuan yang baru lahir pun ikut dipotong jarinya ketika ayahnya meninggal dunia. Bedanya, pemotongan jari pada bayi ini dilakukan oleh sang ibu dengan cara digigit hingga putus.

Kini, tradisi potong jari ini sudah banyak ditinggalkan sejak pengaruh agama mulai masuk ke pelosok Papua. Selain itu, pemerintah setempat juga telah melarang ritual ini. Meski demikian, jika Sahabat berkunjung ke pemukiman Suku Dani, kamu masih bisa berjumpa dengan ibu-ibu atau para wanita yang memiliki bekas luka di ruas jarinya.

Luka pada ruas jari tersebut sekaligus sebagai pengingat bahwa tradisi yang memilukan tersebut pernah ada di kalangan Suku Dani. Nah, Sahabat, bagaimana? Tertarik untuk menyaksikan jejak-jejak tradisi Ikipalin dari dekat? Segera kemas kopermu sekarang, sebelum jejak tradisi itu benar-benar hilang!


Keterangan
Lokasi : jayawijaya, papua
Jelajah PAPUA

16-08-2017 6:17 AM
Nongkrong di ‘Skyline’

01-02-2018 4:15 PM
Festival Danau Sentani

16-08-2017 6:39 AM
Kopi Lampung

16-08-2017 6:15 AM
Monumen Yos Sudarso