Test Drive Audi A3 Sportback: Bukti Kualitas Premium

Test Drive Audi A3 Sportback: Bukti Kualitas Premium
30 Dec 2017

JAKARTA – Pabrikan Jerman selalu menjadi patokan standar kualitas untuk segmen kendaraan premium, baik bagi sesama pabrikan dari Jerman maupun dari negeri lain. Tidak heran jika mobil Jerman memiliki sensasi dan feel tersendiri saat dikemudikan.

Hal itu bahkan kami buktikan ketika mencoba mobil Jerman entry level, yakni saat kami menguji Audi A3 Sportback terbaru. Ya, A3 Sportback adalah model paling terjangkau dari Audi di Indonesia, untuk saat ini.

Seharusnya masih ada model A2 dan A1 dari Audi di bawah A3, namun kedua model tersebut tidak dihadirkan di Indonesia saat ini. PT Garuda Mataram Motor meluncurkan A3 Sportback pada ajang GIIAS 2017, bulan Agustus lalu.

Model ini menjadi varian yang lebih mengutamakan kepraktisan dan ruang kabin lebih lega bila dibandingkan A3 hatchback, sekaligus penampilan yang agak lebih sporty. Di sini, A3 Sportback bisa dimiliki dengan banderol Rp 615 juta.

Eksterior

Garis desain tegas dan tajam langsung terlihat begitu menjumpai mobil ini, apalagi jika melihatnya dari arah depan. Permainan lekuk minimalis namun tegas di area sekitar grille dan lampu utama memperkuat karakter Audi yang khas selama ini.

Velg 17 inci palang lima model akar menimbulkan kesan sporty pada A3 Sportback, sementara panel body pada pilar D yang lebih tebal dan panjang mengingatkan bahwa mobil ini memiliki tambahan kapasitas ruang pada bagasinya. Sepintas bagian belakang A3 Sportback membuatnya tampak seperti sebuah sedan estate.

Mesin yang diusung oleh Audi adalah empat silinder 1.2 liter turbo TFSI, mesin serupa seperti dipakai oleh Volkswagen Polo 1.2 TSI. Dengan perbedaan pada mapping, mesin ini menghasilkan tenaga 110 hp berikut torsi 175 Nm.

Interior

Begitu masuk ke dalam kabinnya, kami langsung mendapati paduan antara karakter elegan dan sporty oleh Audi. Dominasi warna hitam dengan aksen perak di dashboard dan trim interior mengangkat aura elegan di dalam kabin, sementara sentuhan sporty hadir dari ventilasi AC berbentuk lingkaran dan setir yang desainnya serupa dengan milik Porsche.

Audi yang cenderung lebih identik dengan kesan canggih dibanding Mercedes-Benz dan BMW, menyambut pengemudi dan penumpang dengan layar pusat infotainment yang muncul dari dalam dashboard, begitu kunci diputar dan mesin dinyalakan. Ini ciri khas dari Audi yang tidak dimiliki para kompetitornya.

Mencari posisi duduk ideal menjadi lebih mudah dengan tersedianya pengaturan dengan sistem elektrik pada jok, sementara lingkar kemudi mampu diatur baik tilt maupun teleskopik.

Sayang, sebagai mobil premium, bisa kami bilang A3 Sportback kurang maksimal soal fitur. Karena Audi tidak menyediakan seperti kamera mundur, navigas GPS dan keyless entry. Namun hadirnya lampu otomatis dan sistem audio dari Bose sudah cukup membuat nyaman berada di dalam kabin A3 Sportback.

Lalu kami beraih ke kursi belakang, yang dengan bertambahnya dimensi memberikan ruang lebih lega khususnya pada ruang kaki. Meski bukan yang paling luas, namun duduk di baris belakang A3 Sportback tidak akan meresahkan penumpang dengan claustrophobic, karena ruang kepala juga cukup lega.

Kenyamanan duduk di kursi belakang, penumpang masih bisa merasakan embusan AC, meski bukan double blower. Penumpang tetap bisa mengatur seberapa kencang semburan AC dari kursi belakang.

Lebih lanjut, kursi belakang masih bisa memberikan fleksibilitas ruang lain ketika dilipat untuk memperluas ruang bagasi. Alhasil, bagasi yang awalnya berkapasitas 340 liter akan berubah menjadi 1.220 liter ketika kursi belakang dilipat, dengan format pelipatan 60:40.

Impresi Berkendara

Akhirnya tiba juga pada ulasan impresi berkendara dari A3 Sportback, yang harus kami akui meski memiliki penampilan sporty justru kualitas kenyamanan yang lebih membuat kami terkesan pada mobil ini.

Tingkat NVH (Noise, Vibration, Harshness) dari mobil ini terasa sangat baik untuk sebuah mobil yang diposisikan di segmen entry level. Peredaman suara dari luar sangat baik kami rasakan, membuat kabin sangat senyap walaupun dalam kondisi kecepatan tinggi, jalan tidak rata, maupun hujan deras.

Peredaman suspensi memiliki karakter perpaduan keras dan lembut pada peredamannya dalam kadar yang pas, sehingga saat melintas kontur jalanan tidak rata kami tidak harus dibuat ‘meringis’ karena kerasnya suspense, juga tidak merasakan body yang mengayun terlalu kencang.

Karakter suspensi ini alhasil memberikan kestabilan yang baik saat A3 Sportback diajak bermanuver dalam kecepatan tinggi, membuat kami lebih yakin untuk memacunya. Gejala body roll tetap ada, namun tidak dalam kadar yang berlebihan sampai membuat tubuh terlempar dari jok.

Putaran setir yang ringan memudahkan bermanuver di ruas jalan yang berliku di tengah lalu lintas kota Jakarta, yang di saat bersamaan setir mampu beradaptasi dengan kecepatan mobil untuk mendapatkan feeling lebih baik kepada pengemudi. Dengan menjadi berat saat melaju kencang, kemudi terasa lebih komunikatif saat berpindah arah.

Bicara soal performa saat diajak ngebut, A3 Sportback tidak seagresif Polo 1.2 TSI dalam hal performa mesin. Mungkin karena secara dimensi dan bobot lebih besar dan berat, maka A3 Sportback yang sama-sama bermesin 1.2 liter turbo tidak segalak Polo saat pedal gas diinjak penuh.

Namun meski terasa kurang galak, A3 Sportback masih cukup menyenangkan untuk dipacu kencang, karena kita bisa memanfaatkan mode Sport yang diaktifkan dengan menarik satu ‘klik’ tuas transmisi di posisi D. Mesin langsung menjadi lebih responsif dan siap melayani kebutuhan untuk menggeber lebih kencang.

Mengingat Audi menerapkan transmisi dual-clutch 7-speed S Tronic, setiap perpindahan giginya terasa sangat singkat, sehingga akselerasi semakin optimal. Mode perpindahan gigi manual pun bisa dinikmati baik via tuas transmisi ke posisi M, maupun melalui paddle-shifter di balik setir agar kedua tangan bisa lebih fokus di kemudi.

Di sisi lain, penggunaan transmisi dengan pelat kopling ganda ini justru mengurangi kenyamanan saat berada di tengah kemacetan karena dalam kondisi stop-and-go mobil justru merespons kurang cepat. Ada jeda antara setelah pedal rem dilepas hingga akhirnya mobil melaju, dengan maupun tanpa tekanan pedal akselerator, sehingga membuatnya kurang responsif saat di kemacetan.

Dari itu semua, A3 Sportback menjadi sebuah hatchback praktis yang cukup menyenangkan untuk dikemudikan, dengan tingkat kenyamanan dan NVH mengesankan. Baik untuk dikendarai seorang diri maupun membawa keluarga, A3 Sportback akan bisa cukup memenuhi kebutuhan.

Akan lebih memuaskan bila Audi mau melengkapi mobil ini dengan fitur-fitur yang tidak ada seperti kami sebutkan sebelumnya. Sebagai model entry level, A3 Sportback telah berhasil menunjukkan kualitas Audi sebagai pabrikan di kelas premium.