Home / Berita Terbaru

Adira Finance membukukan laba bersih Rp 1,02 triliun di 2020

24 Februari 2021 | Penulis : admin

Sebelum masa pandemi Covid-19, pasar memperkirakan bahwa ekonomi global akan bertumbuh di tahun 2020. Namun, merebaknya virus Covid-19 di awal tahun 2020 telah menimbulkan krisis ekonomi global. Hampir semua negara telah menerapkan kebijakan pembatasan mobilitas dan social distancing guna mencegah penyebaran Covid-19. Keterbatasan mobilitas tersebut kemudian menyebabkan terganggunya kegiatan perekonomian sehingga mendorong ekonomi ke dalam resesi.Akibatnya, hal ini menimbulkan pengangguran dan menekan daya beli konsumen. Pada awalnya perekonomian Indonesia membukukan pertumbuhan positif sebesar 2,97% (y/y) di 1Q20. Seiring adanya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada 2Q20, pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi sebesar -5,32% (y/y) terendah sejak krisis keuangan di tahun 1998.

Menyikapi tantangan Covid-19, pemerintah secara bertahap berupaya memberikan stimulus fiskal dan moneter untuk mendorong pemulihan ekonomi. Selain itu, pemerintah juga melonggarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak pertengahan Juni 2020, oleh karena itu kegiatan ekonomi secara bertahap berangsur membaik namun masih mencatatkan pertumbuhan negatifsebesar -3,49% di 3Q20 dan -2.1%di 4Q20. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2020 berada pada -2,07% (y/y).

Hampir seluruh sektor ekonomi dan bisnis mengalami pelemahan yang signifikan di sepanjang tahun 2020, termasuk industri otomotif. Penjualan mobil baru domestik ritel tercatat menurun sebesar 44% y/y di tahun 2020, sedangkan penurunan penjualan sepeda motor baru domestik ritel mengalami penurunan sebesar 38% di tahun 2020. Penurunan ini secara keseluruhan disebabkan oleh lemahnya daya beli konsumen, penurunan investasi, gangguan kegiatan usaha, dan adanya pengetatan dalam akuisisi pembiayaan baru dalam menghadapi risiko kredit yang meningkat. 

Adira Finance melakukan beberapa inisiatif dalam merespon tantangan di tahun 2020 antara lain memastikan kegiatan operasional berjalan dengan baik dengan penerapan BCP (Bisnis Continuity Plan),memberikan restrukturisasi kredit bagi nasabah yang terkena pandemi Covid-19, mengelola kualitas asetguna menjaga NPL dalam batasan internal, lebih selektif dalam mendistribusikan pembiayaan baru dan menjaga likuiditas untuk memenuhi kewajiban keuangan perusahaan dan kebutuhan bisnis melalui kegiatan pendanaan dan mengintensifkanpembayaran angsuran nasabah.

Selain itu, Perseroan telah berpartisipasi dalam program restrukturisasi kredit pemerintah bagi konsumen yang terkena dampak langsung pandemi Covid-19. Hingga akhir Desember 2020, jumlah nasabah yang pinjamannya telah direstrukturisasi ada sebanyak 827 ribu kontrak atau sekitar Rp. 18,9 triliun mewakili sekitar 35% dari piutang yang dikelola per Februari 2020. Seiring waktu, sekitar 80% dari pinjamanan nasabah yang telah direstrukturisasi telah mulai membayar kewajiban cicilannya.

Terlepas dari tantangan lingkungan bisnis jangka pendek, Perusahaan terus berinvestasi untuk masa depan. Kami juga beradaptasi dengan perubahan pasar dengan melanjutkan investasi dalam digitalisasi dan mempercepat digitalisasi selama pandemi sedang berlangsung. Oleh karena itu, ADMF telah meluncurkan AdiraKu, sebuah aplikasi mobile bagi nasabah dan calon nasabah untuk melakukan berbagai layanan lengkap seperti “digital branch”, yang dapat digunakan antara lain untuk melihat pembayaran angsuran nasabah, pengajuan kredit, mengecek status dan perkembangan pinjaman, juga berhubungan dengan agen layanan pelanggan. Hingga Desember 2020, jumlah konsumen yang telah mengunduh aplikasi ini sekitar 889 ribu konsumen dan jumlah konsumen yang terdaftar sekitar 399 ribu konsumen. Selain itu, kami terus berinvestasi dalam organisasi yang fokus pada customer centric misalnya, AdiraPoints diluncurkan sebagai sistem poin reward dan program loyalitas bagi pelanggan setia Adira Finance. “Ditengah penurunan tajam penjualan otomotif, Adira Finance membukukan pembiayaan baru di tahun 2020 sebesar Rp 18,6 triliun atau turun 51% (y/y) dari pencapaian tahun sebelumnya. Pembiayaan baru pada segmen mobil dan sepeda motor masingmasing menurun sebesar 46% (y/y) dan 52% (y/y). Sehingga pangsa pasar kami pada segmen mobil dan sepeda motor juga ikut turun masing-masing menjadi 4,1% dan 9,5% di tahun 2020. Kami juga lebih berhati-hati dalam melakukan akuisisi pembiayaan baru pada tahun lalu untuk menghadapi peningkatan risiko kredit. Dengan demikian total piutang yang dikelola Perusahaan sebesar Rp 44,0 triliun, turun 20% (y/y) di 2020.” kata Hafid Hadeli, Presiden Direktur.

Dari sisi keuangan, Perusahaan membukukan pendapatan bunga sebesar Rp 10,3 triliun atau turun 14,0% di 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama dikarenakan penurunan piutang pembiayaan yang didorong oleh penurunan pembiayaan baru yang sejalan dengan penurunan signifikan pada pasar penjualan otomotif, serta adanya restrukturisasi pinjaman kepada konsumen di sepanjang tahun 2020. Sementara itu, beban bunga tercatat sebesar Rp4,3 triliun, atau turun sebesar 9,2%. Sehingga pendapatan bunga bersih Adira Finance tercatat sebesar Rp 6,0 triliun, turun 17,1% y/y. Akibatnya margin bunga bersih Adira Finance juga menurun menjadi sebesar 12,0% di 2020. Di samping itu, beban operasional kami turun sebesar 4,7% menjadi Rp 3,5 triliun dimana kami telah melakukan langkah-langkah secara efektif untuk mengelola biaya operasional selama pandemi. Cost of credit kami meningkat sebesar 13,4% menjadi Rp 2,0 triliun. Dengan demikian, laba bersih Perusahaan setelah pajak dibukukan sebesar Rp 1.026 miliar atau mengalami penurunan sebesar 51,4%. Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) Perusahaan masing-masing tercatat menjadi sebesar 3,1% dan 13,3% di 2020.

Biaya kredit Perusahaan termasuk piutang pembiayaan bersama naik menjadi 6,4% atas total piutang yang dikelola pada tahun 2020 seiring dengan kondisi lingkungan bisnis yang terus memburuk disepanjang tahun 2020. Sementara itu, NPL kami tercatat sebesar 1,9% dari piutang yang dikelola, lebih rendah dibandingkan dengan industri pembiayaan sekitar 4,0%.

“Merupakan prioritas Perusahaan untuk memperoleh likuiditas yang cukup guna memenuhi semua kewajiban keuangan dan pendanaan untuk kebutuhan bisnis. Dalam memperoleh kebutuhan pendanaannya, Perusahaan berhasil menerbitkan obligasi pada bulan Juni 2020 sebesar 1,5 triliun (Rp 1,3 triliun konvensional dan Rp 200 miliar Sukuk). Perusahaan juga telah menggunakan fasilitas pinjaman sindikasi (syndicated loan) luar negeri sebesar USD 300 juta dimana pinjaman ini telah sepenuhnya dilakukan lindung nilai (fully hedged) baik dari pokok maupun suku bunganya. Adira Finance juga mendapatkan dukungan standby facility setara dengan USD 280 juta.” kata I Dewa Made Susila, Direktur Keuangan Adira Finance

Dengan adanya kecukupan likuiditas, Perusahaan telah membayar seluruh kewajiban keuangannya termasuk membagikan dividen kepada para pemegang saham sebesar Rp1,06 triliun pada bulan April 2020, dan mendanai kebutuhan bisnisnya dengan menggunakan fasilitas pendanaan yang tersedia dan pembayaran angsuran dari nasabah.

Perusahaan terus melakukan diversifikasi sumber pendanaannya melalui dukungan dari pembiayaan bersama dengan Perusahaan induknya, Bank Danamon dan memperoleh pinjaman eksternal (pinjaman bank dan obligasi). Pembiayaan Bersama mewakili 45% dari piutang yang dikelola. Total pinjaman eksternal Perusahaan per 31 Desember 2020 adalah sebesar Rp 16,8 triliun, terdiri dari pinjaman bank (luar negeri dan dalam negeri) dan obligasi, masing-masing memberikan kontribusi 54%: 46%. Gearing ratio turun menjadi 2,1x pada tahun 2020 dibandingkan dengan 2,8 kali tahun lalu.

“Pada Januari 2021, Pefindo, lembaga pemeringkat domestik, telah menetapkan kembali pemeringkatan Adira Finance yaitu idAAA (stabil) di tengah kondisi ekonomi yang kurang mendukung. Peringkat ini memperkuat kemampuan Perusahaan untuk mengakses sumber pendanaan yang lebih kompetitif.” kata I Dewa Made Susila, Direktur Keuangan Adira Finance

“Untuk menghadapi tantangan baru di tahun 2021, kami telah mempersiapkan strategi dan inisiatif untuk mengembangkan bisnis, antara lain memperkuat dan meningkatkan pangsa pasar di bisnis otomotif dengan memberikan berbagai program penjualan yang menarik bagi nasabah, memperluas usahapada bisnis non-otomotif (produk multiguna, dan fee based income dan lain-lainnya), mempercepat investasi dalam digitalisasi dan inisiatif yang berpusat pada customer centric, dan terus menyederhanakan proses kami menjadi lebih sederhana, cepat dan efisien.” kata Hafid Hadeli, Presiden Direktur.

Bagikan Artikel

Berita Terbaru

Dapatkan informasi terbaru tentang Adira Finance
Subscribe Sekarang


Kantor Pusat Adira Finance

Gedung Millenium Centennial Center Lantai 53, 56-61
Jl Jenderal Sudirman Kav. 25 Jakarta 12920

Call Center : 1500511
WhatsApp Chat / SMS : 0811 811 5811
Email : customercare@adira.co.id
Cari Lokasi Cabang
  • Copyright @ Adira Finance Terdaftar dan Diawasi oleh OTORITAS JASA KEUANGAN